WWF Gelar International Bike Camping 2017 di Kalimantan Barat

Dalam rangka memperingati ulang tahun Kabupaten Bengkayang ke-18 yang jatuh pada 27 April 2017, WWF Indonesia bekerja sama dengan West Borneo Tourism menggelar International Bike Camping. Berlangsung mulai 28 April hingga 1 Mei 2017 dengan rute melewati Pontianak, Mempawah, dan Bengkayang, kegiatan ini juga menjadi bagian pengenalan potensi wisata yang terdapat di Provinsi Kalimantan Barat dan upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat pun menyambut baik dan mendukung penuh kegiatan International Bike Camping 2017 tersebut. “(Acara) ini sangat istimewa karena kita kedatangan tamu pesepeda dari berbagai tempat dengan misi wisata,” ujar Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Bengkayang I Made Putra Negara.

Potensi Wisata

Kalimantan Barat yang merupakan provinsi terbesar di Kalimantan ini memiliki berbagai potensi wisata, mulai dari wisata alam, pantai, sejarah dan museum, budaya, olahraga, hingga kuliner. Pontianak sendiri sebagai ibu kota Kalimantan Barat juga kaya akan destinasi wisata yang harus dikenalkan, dilestarikan, dikembangkan, dan dipromosikan, termasuk Tugu Khatulistiwa sebagai bangunan ikonik yang selalu ramai kala kulminasi matahari terjadi.

Karena itulah, hari pertama event ini akan dilewatkan dengan city tour mengunjungi Museum Negeri Pontianak, melihat Rumah Radakng (rumah panjang suku Dayak Kanayatn), dan mengeksplor Taman Alun Kapuas.

Keesokan harinya, atau tepatnya pada 29 April, peserta akan singgah di Tugu Khatulistiwa, sebelum melanjutkan perjalanan ke Mempawah Mangrove Park untuk menanam bakau sebagai salah satu upaya pelestarian lingkungan. Kemudian, peserta akan disambut oleh Pemerintah Kabupaten Mempawah di Keraton Amantubillah, sebelum dilepas menuju Bengkayang. Di hari terakhir, peserta akan berkunjung ke Kelenteng Cheng Ho dan Pantai Mimi Land sebelum turut meramaikan acara puncak HUT Bengkayang.

WWF Indonesia Luncurkan Aplikasi Marine Buddies

Dua pertiga dari luas wilayah Indonesia adalah perairan. Saat ini dari luas tersebut, Indonesia telah memiliki 165 kawasan konservasi bahari. Namun World Wildlife Fund (WWF) Indonesia mencatat, dari seluruh kawasan konservasi bahari yang sudah ada, baru 10 persen di antaranya yang berhasil dikelola dengan baik. Karena itu, menurut organisasi nirlaba lingkungan tersebut diperlukan peran aktif masyarakat untuk membantu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam pengelolaan kawasan konservasi bahari.

Pada 2 Maret 2017, WWF Indonesia meluncurkan aplikasi Marine Buddies sebagai bagian dari kampanye #TemanTamanLaut. Melalui aplikasi yang dapat diunduh secara gratis di telepon pintar berbasis Android, pengguna dapat mengenali 165 kawasan konservasi di Indonesia seperti Pulau Weh, Buleleng, Wakatobi, Alor, hingga Raja Ampat. Kampanye #TemanTamanLaut juga mengajak masyarakat untuk mengenali dan mengunjungi kawasan konservasi bahari di Indonesia, serta mengawasi pengelolaan kawasan konsevasi bahari dan melaporkan aktivitas bahari yang tidak bertanggung jawab.

Aplikasi Marine Buddies bekerja berdasarkan lokasi (location based) sehingga beberapa fitur seperti “Penilaian” dan “Pelaporan” hanya dapat digunakan ketika pengguna berada di salah satu dari 165 kawasan konservasi bahari di Indonesia. Sedangkan jika pengguna hendak menggunakan kedua fitur tersebut di luar lokasi konservasi bahari akan muncul pemberitahuan pengguna sedang tidak berada di kawasan konservasi bahari.

Pengguna dapat memanfaatkan fitur “Pelaporan” jika melihat peristiwa atau aktivitas yang tidak bertanggung jawab yang dapat merusak atau mengancam keberadaan lingkungan dari kasawan konservasi bahari. Nantinya,laporan dari pengguna aplikasi Marine Buddies tersebut akan diteruskan oleh WWF Indonesia pada KKP dan KLHK untuk ditindaklanjuti. Jika laporan yang diberikan telah ditanggapi atau ditindaklanjuti, pengguna akan mendapatkan notifikasinya. Tak hanya itu, melalui aplikasi ini, pengguna juga dapat mengakses berita-berita terbaru seputar informasi bahari di Indonesia.

Aplikasi Marine Buddies ini untuk sementara hanya tersedia untuk Android, sedangkan iOS akan menyusul pada Mei 2017.

WWF-Indonesia: Stop Konsumsi Makanan Berbahan Dasar Hiu!

WWF-Indonesia mengajak industri jasa makanan dan perhotelan di Indonesia untuk mengambil peran dalam gerakan konservasi global dan beralih dari produk berbahan dasar hiu dalam hidangannya. Dalam lima tahun terakhir, gerakan global untuk menghilangkan segala bentuk sajian berbahan dasar hiu mendapatkan momentum besar dengan lebih dari 18.000 properti jaringan hotel internasional yang melarang penyajian masakan berbahan dasar hiu.

Jaringan Hongkong Shanghai Hotel, Shangri-La Hotel, Hilton dengan lebih dari 4.700 propertinya, Starwood Hotel di 1.300 jaringannya, Intercontinental Hotel Group di hampir 5.000 jaringan hotelnya, Carlson Rezidor dengan lebih dari 1.100 properti, dan Marriot International di hampir 4.500 properti hotelnya telah mengumumkan larangan penyajian hiu sejak 2012. Menurut perhitungan WWF, sedikitnya 18.200 properti jaringan hotel di dunia tidak lagi menyajikan hidangan berbahan dasar hiu.

“Menghilangkan hiu dari rantai makanan mengganggu keseimbangan ekosistem laut, yang dampaknya akan bermuara pada manusia,” ujar Andy Cornish, Shark & Ray Initiative Leader, WWF International. “Banyak jaringan hotel internasional telah memahami ancaman serius dari konsumsi sirip hiu kepada ekosistem laut. Namun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Sekarang kami mengajak seluruh pihak di sektor jasa makanan yang belum mengambil tindakan serupa untuk bergabung dalam gerakan global ini dengan menghargai dan menjaga laut kita.”

Produksi hiu nasional antara tahun 2000 dan 2014 cenderung mengalami penurunan sebesar 28,30 persen, namun pada 2014 Indonesia masih menjadi negara produsen hiu terbesar di dunia dengan kontribusi sebesar 16,8 persen dari total tangkapan dunia. “Hasil survei WWF-Indonesia menunjukkan konsumsi sirip hiu di restoran di Jakarta mengalami penurunan sekitar 20,32 persen menjadi 12.622 kilogram sirip hiu dalam satu tahun, dari setidaknya 15.840 kilogram di tahun 2014,” papar Imam Musthofa, SBS and Fisheries Leader WWF-Indonesia

Pada acara Diskusi Terbuka bertemakan Menghilangkan Hiu dari Menu yang diselenggarakan oleh WWF-Indonesia di Soehanna Hall, Jakarta, pada 25 Januari 2017, terkait dengan perayaan Tahun Baru Imlek, Aji ‘Chen’ Bromokusumo, Pakar Budaya dan Kuliner dari Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia, menyatakan “Sirip hiu bukanlah suatu keharusan sama sekali sebagai ucapan rasa syukur.” Menurutnya, hidangan Imlek harus mewakili tiga unsur, yaitu udara, darat, dan air. Unsur dari air bisa diwakili ikan jadi tidak harus sirip hiu, bisa diganti dengan bandeng yang filosofinya lebih baik dan bisa dihadirkan utuh untuk menunjukkan rasa syukur dan harapan untuk kelancaran di masa depan. “Saya sepakati Imlek bebas hiu,” tegasnya.

Bussiness leader dan champion kampanye #SOSharks, Shinta Widjaja Kamdani, menegaskan “Nilai keberlanjutan sudah dimulai secara global, dan kita juga harus mulai memperhatikan hal ini. Usaha jasa pengangkutan bersama asosiasi hotel dan restoran harus melakukan sosialisasi tentang keseimbangan ekosistem dan ini adalah suatu momentum yang bisa kita ambil untuk sebuah gerakan nasional yang melibatkan semua pelaku usaha.”

“Saya mulai dari rumah saya sendiri dan terapkan di usaha yang saya jalani. Ini bukan sesuatu yang memberikan kebanggaan bagi restoran untuk menyajikan sirip hiu, karena sudah banyak alternatif yang disajikan,” lanjut Shinta.

Acara diskusi terbuka ini dihadiri oleh perwakilan dari hotel, peritel, restoran, termasuk Shangri-La, Gran Melia, Santika, House of Yuen, Bandar Jakarta, dan Superindo. Perwakilan pemerintah juga terlibat aktif dalam diskusi, di antaranya Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan, serta Dinas Kelautan, Peternakan dan Ketahanan Pangan Provinsi DKI Jakarta.

WWF Indonesia Serukan Penyelamatan Tuna

 

Populasi tuna semakin menipis. Laporan terakhir West Pacific and East Asian Seas (WPEA) menyebutkan telah terjadi penurunan yang mengkhawatirkan pada stok cakalang dan tuna mata besar di tingkat regional. Masa depan perikanan tuna tersebut mendominasi Pertemuan Regional Komisi Perikanan Wilayah Pasifik Barat dan Tengah (Western and Central Pacific Fisheries Commission/WCPFC) yang berlangsung di Bali 3-8 Desember.  480 delegasi dari negara anggota WCPFC, termasuk Indonesia, merumuskan kesepakatan langkah pengelolaan perikanan tuna dari setiap negara anggota di wilayah Samudera Pasifik bagian tengah dan barat.

Berdasar laporan dan pertemuan tersebut, WWF menghimbau Pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah  perbaikan pengelolaan perikanan, agar komoditas perikanan tuna Indonesia dapat berkelanjutan. Abdullah Habibi, Manajer Program Perbaikan Perikanan Tangkap dan Budidaya WWF Indonesia menyatakan, ”Langkah-langkah perbaikan pengelolaan untuk  perikanan tuna meliputi penyusunan strategi pemanfaatan (Harvest Strategy), pengaturan pemanfaatannya (Harvest Control Rule) di perairan kepulauan yang harus selaras dengan WCPFC, kepatuhan terhadap standar RFMO (Regional Fisheries Management Organization) terutama pada pemenuhan data yang akurat, dan penempatan observer onboard (penilik yang ikut di atas kapal – red).”

Hal ini memang penting bila mengacu pada data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menyebutkan Indonesia merupakan negara dengan potensi tuna tertinggi di dunia. Tahun 2014, total produksi tuna mencapai 613.575 ton per tahun dengan nilai sebesar Rp 6,3 triliun per tahun.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 4/Permen-KP/2015 tentang Larangan Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Negara Republik Indonesia 714 yang meliputi Laut Banda dan Teluk Tolo. Wilayah tersebut merupakan daerah pemijahan (breeding ground) dan daerah bertelur (spawning ground) dari tuna sirip kuning. WPP lain juga membutuhkan perlindungan serupa untuk menjamin keberlanjutan tuna.

WWF Indonesia Selamatkan Tuna

Untuk mendukung perbaikan sektor perikanan menuju keberlanjutan, WWF-Indonesia telah membangun skema Seafood Savers. Seafood Savers adalah upayan memfasilitasi perbaikan perikanan pada skala industri yang mengedepankan skema Business to Business. Selain Seafood Savers, WWF  juga  telah menyusun panduan mengenai praktik perikanan yang lebih baik dalam serial dokumen BMP (Better Management Practices) perikanan tangkap, tangkapan sampingan dan  perikanan budi daya, untuk pengusaha dan nelayan. Panduan ini bertujuan untuk membantu para nelayan dalam menangkap biota secara ramah lingkungan dan berkelanjutan, termasuk proses penanganan dan pengemasannya.

Sementara itu Bubba Cook, Western and Central Pacific Tuna Programme Manager – WWF Smart Fishing Initiative Global Marine Program menyatakan bahwa dorongan politik WCPFC sangat penting untuk Pemerintah terkait mengambil aksi demi kepentingan bersama. “Saya khawatir perikanan tuna di wilayah ini akan menghadapi penurunan jumlah tangkapan jika tak dilakukan aksi segera,” ujarnya.

 

Ilustrasi foto: yudasmoro.net

WWF Indonesia Kenalkan Laut Indonesia Dengan Games Android

 

Penasaran dengan keindahan dan kekayaan laut Indonesia? Bagi pengguna telepon pintar berbasis android, kini bisa mengenal lebih jauh kekayaan laut Indonesia dengan permainan seru di layar smartphone. Touchten Games didukung oleh WWF Indonesia menghadirkan permainan interaktif Fishing Town.

Permainan ini menghadirkan Lukas bersama ayahnya mengungkap dan menghadapi makhluk misterius dan legendaris dari laut dalam. Sambil bermain, pengguna bisa menjelajahi keindahan perairan Wakatobi, Alor, Banda, Pulau Kei, Teluk Cenderawasih, Arafura, Kepulauan Komodo, Bali, Laut Jawa dan Maluku. Dengan bermain Fishing Town pengguna juga berkesempatan untuk mengenali dan belajar tentang lebih dari 100 jenis ikan yang hidup di perairan tersebut seperti ikan baronang, kerapu, bawal dan barakuda.

Roki Soeharyo, Co-founder dan Chief Operation Officer Touchten Games, yakin bahwa Fishing Town akan menjadi media hiburan yang edukatif bagi semua umur. Roki menjelaskan pemain Fishing Town mempunyai misi agar Lukas mendapatkan ikan dan mampu mengalahkan Bahamut, makhluk misterius dan legendaris dari laut dalam.

“Kami menyadari peran sektor perikanan dalam kehidupan kita dan perlu dikelola secara bijak. Sebagai pengembang aplikasi permainan, kami berharap Fishing Town menjadi bentuk nyata kontribusi kami untuk konservasi. Inilah motivasi Touchten Games mengembangkan Fishing Town bersama WWF-Indonesia,” ungkap Roki.

Dengan menyelesaikan misi di setiap tahap (level), pemain akan diberikan misi dengan tingkat kesulitan yang lebih di kawasan perairan yang baru dengan jenis dan berat ikan yang semakin beragam.

Aditya Aryatama, Koordinator Kanal Digital WWF Indonesia, menyatakan “Kehadiran Fishing Town menjadi modal tambahan bagi WWF Indonesia untuk menjangkau publik, khususnya generasi muda, dalam menyebarkan pesan konservasi di sektor kelautan dan perikanan.

Kami percaya pesan konservasi akan lebih mudah ditangkap dan dipahami melalui media permainan. Selain bermain dan mendapat informasi, melalui Fishing Town, publik juga memiliki kesempatan untuk berkontribusi mendukung program konservasi WWF Indonesia melalui pembelian dalam aplikasi,” tambahnya.

Fishing Town dapat diunduh di Google Play secara gratis. Dalam rangka peringatan Hari Ikan Nasional dan Hari Perikanan Dunia (World Fisheries Day), WWF –Indonesia dan Touchten Games pada Sabtu, (21/11/2015) menggelar peluncuran publik Fishing Town yang dimeriahkan dengan kompetisi Fishing Town di Loop Station Mahakam, Jakarta.