Sky Corridor, Jembatan Kaca Terbaru di Tiongkok

Setelah berhasil menarik wisatawan dengan berbagai jembatan kaca yang memacu adrenalin, seperti Tianmen Mountain Skywalk, Zhangjiajie Grand Canyon Glass Bridge, dan Coiled Dragon Cliff, Tiongkok kembali menghadirkan jembatan lain yang tak kalah menantang, yakni Sky Corridor di Chongqing, sebelah barat daya Tiongkok.

Konstruksi jembatan ini mencontoh Grand Canyon Skywalk di dekat Colorado River, Arizona. Hanya saja, bila Grand Canyon Skywalk berbentuk bulat mirip tapal kuda, Sky Corridor berbentuk huruf A. Selain itu, panjangnya pun tiga kali lipat lebih panjang dibanding Grand Canyon Skywalk, sehingga jembatan ini kini tengah didaftarkan di Buku Rekor Dunia Guinness sebagai jembatan kantilever terpanjang di dunia.

Telah menarik ribuan turis sejak dibuka pada 8 April 2017, Sky Corridor bukanlah jembatan kaca pertama yang dibangun di Chongqing. Sebelumnya Tiongkok telah mendirikan Yunduan Skywalk pada 2015 yang hingga kini tengah memegang rekor sebagai jembatan kantilever terpanjang di dunia. Namun tentu saja dengan panjang yang hanya mencapai 26 meter, jembatan ini tak ada apa-apanya bila dibandingkan Sky Corridor.

Tiongkok Miliki Monorel yang Menembus Apartemen

Menyiasati lahan yang terbatas, di Tiongkok terdapat sebuah monorel yang dibangun menembus lantai atas sebuah apartemen 19 lantai. Stasiun monorel inovatif tersebut terletak di Stasiun Liziba, Chongqing, di sebelah tenggara Tiongkok.

Tiongkok memang memiliki kepadatan sangat tinggi. Di tahun 2016 jumlah penduduk di negeri ini mencapai 1.379.150.000 jiwa atau sekitar 18,8 persen dari penduduk bumi. Selain itu, kota Chongqing di Tiongkok diketahui memang belum memiliki fasilitas transportasi yang layak. Untuk mengatasi hal itu, pemerintah kota pun memiliki ide yang kreatif untuk membangun sebuah monorel di lokasi yang padat. Dengan begitu, pemerintah pun dapat menghindari kemungkinan untuk merobohkan gedung apartemen untuk membangun sebuah jalur monorel.

“Kota kami sudah padat dengan bangunan dan itu membuat kami kesulitan menemukan ruang untuk jalan dan jalur kereta api,” ujar juru bicara dinas transportasi kota setempat.

Rel serta stasiun monorel berada di lantai enam hingga delapan gedung apartemen. Dengan kata lain, penghuni apartemen dapat langsung naik monorel dari apartemen mereka. Penghuni di dalam apartemen pun tidak merasa terganggu akan kehadiran rel dan stasiun di dalam apartemen. Bunyi kereta yang biasa menimbulkan suara kebisingan telah diredam dengan teknologi khusus. Peredaman suara saat kereta lewat sudah dirancang dengan baik agar tidak mengganggu penghuni apartemen yang terletak di bawah maupun di atas stasiun.

Stasiun monorel yang terletak di daerah dengan dataran tinggi dan berbukit tersebut telah dibuka pada 2004.

 

Tiongkok Kembali Buka Jalur Sutra

Tiongkok kembali membuka dan memanfaatkan Jalur Sutra, jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Benua Asia dan Benua Eropa. Sebelumnya, Tiongkok telah berhasil membuka jalur kereta yang menghubungkan negara tersebut hingga London. Dengan jalur kereta ini, London yang berjarak 28.000 kilometer dapat ditempuh selama 18 hari, lebih cepat dibanding jalur laut menggunakan kapal feri. Jalur kereta tersebut melewati Kazakhstan, Rusia, Belarus, Polandia, Jerman, Belgia, dan Perancis, akhirnya menyeberang di bawah Selat Inggris.

Untuk mega proyek pengembangan Jalur Sutra ini, pemerintah Tiongkok telah mempersiapkan dana investasi sebesar empat juta euro. Tak hanya untuk perdagangan dan industri, dana tersebut juga dimanfaatkan untuk mengembangkan pariwisata di atas Jalur Sutra.

Sebagai negera keempat di dunia yang paling banyak dikunjungi turis, menurut pemerintah, kota-kota utama seperti Beijing, Shanghai, Xian, dan Chengdu sudah terlalu padat. Selain karena penduduknya, kota-kota ini juga sering dipadati turis, hingga sebaiknya turis juga mengunjungi daerah wisata lain agar industri pariwisata dapat merata di seluruh daerah.

Salah satu destinasi yang sedang dikembangkan adalah Provinsi Gansu, dua jam penerbangan dari Beijing. Terletak di sebelah timur Tiongkok, provinsi ini adalah titik akhir dari Jalur Sutra. Sebuah kota yang bernama Dunhuang di provinsi ini menyimpan peninggalan sejarah seperti Gua Mogao atau yang dikenal dengan Gua Seribu Buddha. Gua ini menyimpan berbagai karya seni rupa yang menggambarkan kehidupan serta sejarah Buddha yang berumur lebih dari 1.000 tahun. Karena sejarahnya yang tak ternilai, Gua Mogao menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Tak hanya itu, ada juga Yueyaquan, sebuah pagoda di tengah Gurun Gobi dengan danau berbentuk bulan sabit. Untuk sampai ke sini, turis mesti menggunakan kendaraan all-terrain vehicle (ATV). Berada di Dunhuang  jangan lewatkan untuk berkunjung ke pasar tradisional di yang menjual karpet, selain barang-barang khas Jalur Sutra lainnya.

Berhubung masyarakat di sana masih banyak yang belum dapat berbahasa Inggris, saat ini, cara terbaik untuk menyusurinya adalah dengan menggunakan operator tur. Salah satu yang menyediakan jasa tersebut di Tiongkok adalah Wendy Wu Tours (0800 1445 281). Operator ini memberikan penawaran 26 hari tur menyusuri Jalan Sutra, termasuk di Gansu Provinsi dengan mengunjungi Kota Lanzhou dan Dunhuang.