• Twitter
  • Facebook

Rekreasi Sambil Konservasi di Ujung Kulon

Didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teh Kotak, Polygon, dan majalah Panorama, Get Lost kembali mengajak pembaca berpartisipasi dalam rangkaian trip Explore Indonesia pada 6-8 Juni 2014 . Di trip keduanya ini, sebanyak 35 peserta diajak bertualang di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten. Taman Nasional Ujung Kulon merupakan taman nasional pertama di Indonesia dan merupakan salah satu Situs Warisan Alam Dunia yang ditetapkan UNESCO pada 1991 berkat keberadaan badak bercula satu (Rhinocerus sondaicus) yang populasinya kini hanya tersisa sekitar 50-60 ekor saja.

Fotografer perjalanan Barry Kusuma yang telah beberapa kali mengunjungi Ujung Kulon pun turut mendampingi peserta sambil membagikan tips fotografi, sekaligus memberikan bocoran posisi terbaik untuk menghasilkan angle foto yang bagus. Lagipula, setelah trip ini selesai, akan diselenggarakan Lomba Foto Explore Indonesia bertema Ujung Kulon, sehingga diharapkan peserta dapat berpartisipasi untuk memenangkan trip Explore Indonesia ke Bromo pada 15-17 Agustus. Dalam kesempatan ini, Barry juga membawa dan memperkenalkan aerial landscape, teknik baru foto perjalanan, menggunakan Phantom 2 Vision Camera keluaran DJI.

Ikut Terus
Peserta berkumpul di Gedung Panorama di Tomang, Jakarta Barat, pukul 04:00 WIB. Seperti trip sebelumnya, peserta kali ini juga datang dari berbagai usia dan profesi yang berbeda. “Kami rela bangun pagi demi ke Ujung Kulon karena sebelumnya sudah ikut Explore Indonesia Goes To Yogyakarta dan terkesan dengan pengalaman selama di sana. Semoga trip kali ini pun akan sama menyenangkannya,” ujar Anas Lutfi yang kembali membawa serta istri dan keempat putrinya.

Pejalanan menuju Tanjung Lesung sebagai destinasi pertama memakan waktu sekitar enam jam dengan menggunakan dua bus White Horse. Sepanjang perjalanan, peserta memanfaatkan waktu untuk beristirahat dan mempersiapkan energi untuk petualangan yang sudah menunggu. Walau bus melintasi jalan berlubang dan berliku, namun mereka tetap bisa terlelap.

Banyak Kejutan
OLYMPUS DIGITAL CAMERABus berbelok ke sebuah tempat yang berplang “Durian Jatohan Haji Arif, Jalan Raya Serang-Pandeglang”. Peserta sempat menyangka tempat tersebut sebagai persinggahan untuk buang air, namun kemudian Tour Leader memberitahukan bahwa sarapan akan dilakukan di tempat durian tersebut. Peserta tentu saja bingung karena durian bukanlah menu sarapan. Kekhawatiran sakit perut akibat sarapan durian pun sirna setelah peserta mencicipi gigitan pertama durian yang manis. Terlebih sebelumnya mereka memang sudah diberi sekotak kue persembahan Kaffein. Uniknya, buah berkulit keras ini baunya tidak terlalu menyengat. Ternyata hal ini karena durian sengaja dibiarkan matang di pohon. Rasa dagingnya pun digaransi lembut dan manis.

Durian Jatohan Haji Arif adalah salah satu sentra durian terbesar di Serang. Durian yang ditanam di kebun miliknya merupakan durian lokal yang tidak mengenal musim dengan kisaran harga antara Rp 50.000 hingga Rp 150.000, tergantung ukuran. Yang paling kecil dapat membuat kenyang dua hingga empat orang.

Bersepeda ke Pantai
OLYMPUS DIGITAL CAMERASetelah menempuh perjalanan panjang, bus akhirnya memasuki Kalicaa Villa di Tanjung Lesung menjelang pukul 15:00 WIB. Agar perjalanan tak terasa melelahkan, panitia memang sengaja mengajak peserta banyak berhenti di sepanjang jalan. Setelah durian, peserta pun diajak bersantap menu seafood di RM Bu Entin ditemani Teh Kotak. Hal ini supaya peserta memiliki tenaga yang cukup untuk mengayuh sepeda, berhubung sesampainya di penginapan, acara akan dilanjutkan dengan bersepeda.

Namun sebelumnya, peserta disambut meriah oleh staf Kalicaa Villa yang langsung mengajak mereka menari untuk mencairkan suasana. Acara penyambutan ini juga dimanfaatkan untuk masing-masing peserta memperkenalkan diri. Dalam kesempatan ini Barry menginformasikan bahwa selama perjalanan ini akan diadakan lomba foto mengabadikan Ujung Kulon untuk memperebutkan sebuah kamera saku Nikon.

Setelah meletakkan barang-barang di kamar, peserta diajak bersepeda dengan sepeda Polygon menuju Beach Club dan Pantai Bodur untuk menikmati pemandangan. Sayangnya sore itu matahari tertutup awan sehingga peserta tidak dapat melihat sunset. Di Pantai Bodur pun karena ombaknya besar, maka peserta dilarang berenang. Namun mereka cukup puas duduk-duduk menikmati pantai di pasirnya yang putih. Gerimis membuat peserta harus lebih cepat mengayuh sepeda kembali menuju Kalicaa Villa. Jalanan yang menanjak dan tidak rata diterjang nyaman berkat  kelincahan sepeda Polygon dengan sistem transmisi yang dapat disesuaikan medan yang ada, sehingga peserta  kelelahan. Tak terasa hari sudah beranjak makan malam. Setelah membersihkan diri, makan malam tersaji ala prasmanan di restoran Kalicaa Villa.

Bangun Pagi Lagi
Panitia membangunkan peserta pukul 03:00 WIB karena sudah harus siap di bus pukul 04:00 WIB untuk menuju Dermaga Sumur. Inilah dermaga penyeberangan ke Ujung Kulon dan Pulau Peucang sebagai destinasi selanjutnya dalam rangkaian Explore Indonesia Goes To Ujung Kulon. Walau lagi-lagi bus melewati jalanan menanjak yang tidak rata, namun seisi bus senyap karena semua pulas tertidur.

Setelah tiga jam, peserta tampak kecewa ketika mendengar, “Kita salah dermaga, ini adalah dermaga ke Pulau Umang!” Peserta yang sudah telanjur turun dari bus memanfaatkan momen ini untuk mengoperasikan kamera masing-masing, berhubung pagi itu pemandangan matahari terbit terlalu indah untuk tidak dihiraukan.

Berterima Kasih kepada Alam
OLYMPUS DIGITAL CAMERAPengarungan menuju Ujung Kulon dimulai dari Pantai Sumur yang ternyata tak memiliki dermaga. Peserta dijemput dengan perahu kayu dan berpindah ke perahu yang lebih besar di tengah laut. Dari sini, Ujung Kulon masih dua setengah jam lagi.

Ketika akhirnya sampai di Ujung Kulon, peserta disambut dengan segerombolan rusa dan monyet. “Hari ini kita akan menanam bakau,” terang David. Penanaman bakau ini merupakan bagian dari Aksi Thanks To Nature yang merupakan program corporate social responsibility (CSR) dan kampanye cinta alam dari Teh Kotak. Untuk mempersingkat waktu, hanya sepuluh peserta yang diberi kesempatan melakukan penanaman bakau di kawasan Pulau Handeuleum. Bibit bakau harus benar-benar tertanam dalam lumpur agar kokoh berdiri dan peserta harus rela menenggelamkan diri di air setinggi satu meter karena saat itu sedang pasang. “Ini adalah pertama kali saya menanam bakau dan tak menyangka prosesnya sesulit itu. Semoga bakau yang saya tanam dapat tumbuh!” ujar Prasti Rindrawati, salah satu relawan penanam bakau.

Bibit bakau yang siap tanam harus memiliki empat helai daun. Daun-daun ini sendiri mencerminkan usia bakau. Misalnya, empat helai daun menandakan bakau berusia empat bulan dan telah siap untuk dipindah-tanamkan ke lahan yang lebih luas.

Pedalaman Cigenter
OLYMPUS DIGITAL CAMERABasah, lumpur, dan terik matahari tak mengurangi niat peserta untuk mendayung kano menuju pedalaman Cigenter. Satu Kano diisi oleh enam, orang termasuk pemandu yang memberikan arahan mendayung agar laju kano tetap lurus. Selama perjalanan kurang lebih satu jam itu, mata dimanjakan dengan pemandangan ala Hutan Amazon di Amerika Selatan. Di sepanjang jalan, sungai dirimbuni julangan pohon dan dihiasi berbagai suara burung dan serangga. Sebelum kano melaju, pemandu mewanti-wanti kami untuk tidak menyebutkan kata “buaya”. Kepercayaan setempat meyakini hal itu sama dengan memanggil buaya. Untuk menghormati kepercayaan lokal, peserta berusaha untuk tidak melanggar larangan tersebut. Untungnya kami kemudian terlalu sibuk menikmati pemandangan alam yang langka bagi orang kota besar.

Di tengah jalan, pemandu bercerita tentang keberadaan badak bercula satu yang konon jumlah awalnya hanya 40 ekor dan seiring bertambahnya waktu, kini bertambah menjadi sekitar 56 ekor. Setiap tiga bulan, badak langka ini akan melintasi sungai Cigenter. Saking langkanya, jarang ada yang pernah lihat pemunculannya dan selama ini hanya jejaknya saja yang sering terlihat.

Banteng dan Merak
Keluar dari Cigenter, peserta diajak menuju Pulau Peucang untuk sejenak beristirahat di Peucang Island Resort yang juga merupakan tempat menginap di hari itu. Baru saja merapat, decak kagum menghiasi wajah setiap peserta karena Pulau Peucang yang terletak di Selat Panaitan ini dikelilingi pantai berpasir putih halus dengan air yang sebening kristal. Itu semua masih ditambah kawanan rusa, babi hutan, dan monyet yang bebas berkeliaran di padang rumput.

Belum habis decak kagum, peserta kemudian diajak ke Cidaon, sabana yang terletak tepat di seberang Pulau Peucang. Untuk menuju ke sana sebenarnya tinggal lima menit naik speedboat, namun supaya lebih seru, peserta harus melakukan trekking ringan selama lima belas menit melewati jalan setapak yang dikelilingi rawa dan hutan bakau. Di padang rumput Cidaon inilah peserta merasa bagai di Afrika. Terlebih ketika sekawanan banteng Jawa (Bos javanicus javanicus) dan burung merak menampakkan diri dan bebas berkeliaran. Setelah puas menikmati padang rumput, dalam perjalanan kembali ke Pulau Peucang, peserta sempat menikmati keindahan matahari terbenam.

Peserta sebenarnya sudah siap beristirahat setelah makan malam, namun David kemudian membagikan doorprize berupa aksesoris sepeda dari Polygon, bantal Springair, voucher menginap di Menara Peninsula Hotel, dan voucher Kaffein dengan hadiah utama berupa dua sepeda Polygon yang diraih oleh Nadia Farah Lutfiputri dan Indhira Gita.

Karang Copong
OLYMPUS DIGITAL CAMERASebelum pulang, peserta diajak trekking menyusuri hutan Pulau Peucang yang dihiasi pepohonan, seperti merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemiaspeciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), ki hujan (Engelhardia serrata), dan berbagai jenis anggrek. Perjalanan sejauh tiga kilometer menuju Karang Copong itu ditempuh selama satu jam. Selama perjalanan menuju pantai di utara Pulau Peucang itu telinga dihibur oleh suara burung rangkong dan serangga tonggeret. Rusa, monyet, dan babi hutan pun tak kalah membuat suara dari semak sekitar.

Karang Copong dihiasi batu karang dengan ombak yang besar yang terlalu berbahaya untuk direnangi, sehingga cara terbaik menikmatinya justru dari atas bukit dengan lereng yang sudut kemiringannya 70 derajat. Untung tersedia tali untuk membantu peserta merayap naik. Karang Copong sering diidentikan dengan Tanah Lot dari Pulau Jawa dan memang tempat ini lebih indah bila dinikmati dari ketinggian.

Tidak Akan Berakhir
Rangkaian Explore Indonesia akan berlanjut ke Jawa Timur, tepatnya Banyuwangi, Baluran, Kawah Ijen, dan Gunung Bromo, yang menjadi ikon wisata di Pulau Jawa. Dengan memanfaatkan momentum long weekend 17 Agustus, Explore Indonesia Goes to Bromo yang diselenggarakan pada 15-17 Agustus 2014 ini akan mengajak peserta untuk merayakan Hari Kemerdekaan di puncak Gunung Bromo yang megah! Untuk informasi lebih lanjut, hubungi David di 0856 9318 3588.