• Twitter
  • Facebook

Mengenal Lombok Lebih Dalam

Peserta trip kali ini penasaran untuk menjelajahi Lombok yang tak hanya populer dengan sejumlah pantainya yang cantik, namun juga budayanya yang unik.


Dalam rangkaian trip Explore Indonesia Goes To Lombok yang diadakan 17-19 Oktober 2014, Get Lost yang didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Teh Kotak mengajak 34 peserta untuk mengeksplor Lombok. Berbeda dengan trip sebelumnya, beberapa peserta sengaja membawa buah hati mereka untuk mengisi liburan sekaligus memperkenalkan keindahan Indonesia sejak dini.

“Kebetulan Explore Indonesia Goes To Lombok ini bertepatan dengan jadwal liburan anak, sehingga saya bisa mengajak mereka berlibur bersama. Lagipula agar anak saya dapat belajar bersosialisasi dengan peserta lain,” jelas Nurwedi Hendriyanto, salah satu peserta yang membawa anaknya yang baru berusia 20 bulan.


HARI 1

Tak Sabar
Alasan mengapa trip Explore Indonesia selalu berangkat dengan pesawat paling pagi adalah agar peserta memiliki kesempatan untuk mengeksplor lokasi tujuan semaksimal mungkin. Hal ini tentu saja bukan halangan, karena peserta dapat beristirahat di pesawat, meski penerbangan dari Jakarta ke Lombok relatif singkat. Suasana menunggu keberangkatan pun semakin meriah karena kehadiran peserta anak-anak yang sudah tidak sabar sampai ke Lombok. Beberapa orangtua pun mengaku bahwa anak-anak mereka sampai tidak nyenyak tidur di malam sebelumnya karena takut ketinggalan pesawat.

Pantai Pasir Merica
Tiba di Bandara Internasional Lombok, peserta telah ditunggu oleh bus yang akan membawa keliling pulau. Sebelumnya Lombok memiliki Bandara Selaparang Mataram, namun untuk memaksimalkan potensi wisata, maka pada 20 Oktober 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Bandara Internasional Lombok yang memiliki ciri rumah adat Sasak.

Setelah dua jam perjalanan, bus yang membawa peserta akhirnya berhenti di sebuah pantai sepi yang menyuguhkan hamparan pasir putih, air laut sebening kristal, dan tebing karst. “Kita sudah sampai di Pantai Tanjung Aan,” ujar Anton, pemandu wisata Explore Indonesia Goes To Lombok.

Pantai yang menjadi primadona Lombok ini memiliki dua sisi berbeda yang dipisahkan oleh tanjung berupa bukit. Satu sisi memiliki pasir halus seputih tepung, namun di sisi lain memiliki pasir berwarna kuning kecokelatan yang berbentuk mirip bulir merica. Inilah sebabnya warga setempat menyebutnya sebagai pasir merica. Karena belum ada jadwal untuk berenang atau snorkeling, peserta memanfaatkan waktu di pantai ini dengan berfoto, bersantai di antara bebatuan, dan meminum air kelapa segar.

Pantai Kuta di Lombok
IMG_1957Melanjutkan perjalanan menuju Pantai Kuta, cuaca siang yang terik tak menghalangi peserta untuk mengabadikan keindahan pantai menggunakan kamera masing-masing. Anak-anak pun berlarian di pantai sambil beberapa kali melontarkan pertanyaan, “Ma, aku boleh berenang?” saking sudah tak sabarnya ingin bermain air.

Nama Pantai Kuta memang identik dengan Bali, namun Pantai Kuta di Lombok ini menawarkan suasana yang berbeda. Selain jauh dari hingar-bingar, wisatawan dapat bersantai di sini tanpa gangguan pedagang. Di pantai ini juga lah suku Sasak dari Desa Kuta mengadakan upacara tahunan Bau Nyale. Berasal dari bahasa Sasak, “bau” berarti menangkap dan “nyale” adalah sejenis cacing laut yang hidup di lubang-lubang batu karang di permukaan laut.

Menurut legenda, dahulu ada seorang putri cantik bernama Putri Mandalika yang diinginkan banyak pangeran. Karena tidak dapat memilih satu pun dari pangeran-pangeran yang menyukainya, ia kemudian terjun ke laut. Sebelumnya ia berjanji kepada masyarakat Lombok bahwa ia akan datang setiap tahun dapat bentuk Nyale yang dapat dinikmati bersama oleh seluruh warga. Sesuai pesan sang putri, masyarakat berlomba-lomba mengambil Nyale sebanyak-banyaknya untuk dinikmati sebagai tanda kasih kepada Putri Mandalika.

Sasak Sade
Seusai menikmati keindahan pantai, peserta menuju Desa Wisata Sade untuk mengenal suku Sasak. Terletak di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, penduduk Desa Sade memilih untuk mengabaikan kehidupan modern dan melestarikan budaya suku Sasak.

Rumah di desa ini juga masih tradisional, yaitu menggunakan bambu sebagai penyangga, anyaman bambu sebagai tembok, dan alang-alang sebagai atapnya. Sementara lantainya terbuat dari campuran tanah, getah kayu banjar, dan abu dari jerami yang dibakar. Untuk membuatnya semakin rekat dan tidak lembap di musim dingin serta tidak kering di saat musim panas, lantainya sengaja dilapisi kotoran kerbau.

Mata pencarian penduduk pria di sini adalah bertani, sementara wanitanya bertenun. Tenun bisa ditemukan di rumah-rumah yang di desa seharga mulai dari Rp 30.000 hingga jutaan rupiah. Selain menenun kain dan syal, perempuan suku Sasak juga membuat aksesoris, seperti gantungan kunci, gelang, cincin, kalung, dan anting. Hasil kerajinan ini juga sebagian dijual ke beberapa toko dan galeri di Lombok. Sembari menunggu para orangtua berbelanja, anak-anak sibuk mencari tahu lebih lanjut mengenai kehidupan suku Sasak dari pemandu lokal.

Senja di Pura Batu Bolong
P1140045Melihat matahari terbenam merupakan momen yang juga ditunggu-tunggu oleh peserta – mengingat sunset di Jakarta biasanya diisi dengan kemacetan atau masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Menjelang senja, peserta diajak mengunjungi Pura Batu Bolong di daerah Senggigi. Pura Batu Bolong merupakan sebuah pura kecil yang berdiri di atas batu raksasa yang memiliki lubang di tengahnya.

Seperti di Bali, pura ini pun mengharuskan peserta untuk mengenakan selendang kuning di pinggang selama di area pura serta menjaga kesopanan karena pura merupakan tempat ibadah. Wanita yang sedang menstruasi dilarang memasuki pura.

Saat matahari perlahan terbenam, para peserta yang sebelumnya telah menyiapkan kamera pun sibuk mengabadikan momen berharga tersebut.


HARI 2

Menuju Gili
Pukul 07:00 WITA, peserta mengawali hari dengan sarapan di Lombok Plaza Hotel yang terletak di Mataram. Agenda hari kedua ini sudah dinanti-nantikan oleh para peserta karena mereka akhirnya diajak mengeksplor Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan.

Selama dua jam perjalanan menuju Bangsal, pelabuhan penyeberangan ke Trio Gili, peserta disuguhi keindahan alam dari ketinggian bukit Malimbu. Meski hanya menikmatinya dari dalam bus, keindahan itu sukses membuat peserta melupakan niat semula untuk melanjutkan tidur.

Snorkeling di Coral Garden
IMG_3002Dengan kapal cepat dari Bangsal, hanya dibutuhkan 45 menit untuk menuju Gili Air. Peserta semakin bersemangat dan tak sabar untuk melihat keindahan bawah air tempat ini, terutama setelah beberapa kali di perjalanan berpapasan dengan penyu hijau berukuran besar.

Untuk keamanan dan kenyamanan, pemandu memberikan instruksi bagi setiap peserta yang ingin snorkeling. Yang harus paling diingat adalah tidak menginjak terumbu karang dan tidak menyentuh apa pun di dalam air karena dapat berbahaya bagi diri sendiri. Setelah arahan dimengerti dan disetujui oleh peserta, barulah mereka berganti baju dan mempersiapkan masker, snorkel, fins, dan baju pelampung.

Paduan hari yang panas dan air yang sejuk adalah kemewahan. Tak perlu waktu lama hingga melihat semua peserta menikmati jernihya air Gili Air. Dengan dampingan orangtua, anak-anak pun turut menikmati keindahan bawah laut yang penuh dengan beragam jenis ikan dan terumbu karang. Walau sebagian rusak akibat penggunaan bom untuk menangkap ikan di masa lalu, namun kini masyarakat telah lebih sadar dan menjaga alam. Terutama sejak menyadari semakin banyak turis yang jauh-jauh datang ke Lombok untuk menikmati kecantikan alam bawah lautnya.

Penyu di Alam Bebas
Spot kedua yang dituju untuk snorkeling Turtle Point yang terletak tak jauh dari Gili Meno. Menurut cerita dari sang pemandu, ada dua ekor penyu hijau yang hidup di kawasan ini dan hanya yang beruntung yang dapat melihatnya. Hal ini sebenarnya karena penyu tentu saja akan memilih mengasingkan diri kedalaman jika di permukaan ramai manusia.

Tanpa mempedulikan soal penyu yang akan muncul atu tidak, peserta lebih tertarik mengeksplorasi keindahan bawah airnya. Di sini beberapa peserta melihat sotong yang cukup besar dan seekor ular laut. Meski ular laut dikenal sebagai hewan yang berbahaya, namun ia tidak akan menyerang bila tidak diganggu. Terumbu karang di sini lebih sehat ketimbang di situs snorkeling sebelumnya.

Rupanya keberuntungan berpihak pada para peserta karena penyu hijau yang dinantikan akhirnya muncul ke permukaan untuk mengambil nafas. Hewan laut ini bernapas dengan paru-paru sehingga perlu sesekali muncul ke permukaan untuk mengambil nafas. Secepat ia muncul, secepat itu pulalah penyu tersebut menghilang ke kedalaman.

Mengembalikan Tukik ke Alam
IMG_3382Puas menikmati keindahan bawah air di Gili Air dan Gili Meno, peserta dibawa ke Gili Trawangan untuk membersihkan diri dan melepaskan tukik (bayi penyu) sebagai bagian dari program corporate social responsibility (CSR) Thanks To Nature. Program CSR ini adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Teh Kotak pada rangkaian trip Explore Indonesia.

Indonesia sendiri adalah rumah bagi enam dari tujuh spesies penyu yang ada di dunia, dan spesies-spesies itu semakin berkurang jumlahnya karena perburuan serta diambil telurnya. Walau penyu dapat menghasilkan ratusan butir dalam sekali bertelur, namun hanya 10 persen dari jumlah tersebut yang mampu menjadi penyu dewasa. Penangkaran dan konservasi penyu ini sudah berlangsung sejak 1996 saat warga Gili Trawangan melepaskan 1.200 penyu ke laut. Penyu-penyu yang ditangkar biasanya berjenis penyu hijau, penyu lekang, penyu sisik, dan terkadang penyu belimbing.

Umur minimal tukik yang dapat dikembalikan ke habitatnya adalah delapan bulan. Saat peserta datang ke penangkaran tersebut, penyu-penyu masih berumur lima bulan, sehingga pengelola hanya bisa memberikan tukik secara simbolis. Walau begitu, orangtua telah memberikan pengalaman berharga kepada anak-anak mereka sehingga kelak sang anak tergerak untuk ikut berperan dalam usaha pelestarian alam.


HARI 3

Dua Air Terjun
P1140258Dengan berat hati, peserta harus sarapan sambil check-out dari hotel. Seusai sarapan, peserta langsung menaiki bus untuk menuju Air Terjun Benang Kelambu, salah satu air terjun yang paling terkenal di Pulau Lombok dan berjarak sekitar 32 kilometer dari Mataram.

Wisata air terjun ini berada di kaki Gunung Rinjani, tepat di tengah Pulau Lombok. Sebelum menuju Air Terjun Benang Kelambu, peserta harus berjalan kaki di medan yang curam. Dalam perjalanan ke Air Terjun Benang Kelambu, terdapat air terjun lain bernama Air Terjun Benang Stokel. Keduanya terletak berdekatan dan masih memiliki sumber air yang sama, yaitu Danau Segara Anak yang alirannya memang sampai ke Lombok Tengah. Ketinggian air terjun ini kira-kira 30 meter dengan debit air yang tidak terlalu kencang, sehingga aman untuk berdiri di bawahnya. Konon, air terjun ini memiliki khasiat bisa mengatasi berbagai masalah rambut.

P1140244Sambil istirahat, peserta menikmati makan siang berupa Nasi Puyung khas Lombok. Nama Nasi Puyung ini sendiri diambil dari nama daerah asalnya, yakni Kampung Puyung, Lombok Tengah. Papuk Isum yang berasal dari Kampung Puyung sudah berjualan Nasi Puyung sejak tahun 1980-an dan kini usahanya semakin maju dan dilanjutkan oleh anak dan cucunya. Karena kelezatannya, Nasi Puyung kian menjamur hingga ke Mataram.

Melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Benang Kelambu yang berada di hulu Air Terjun Benang Stokel, peserta dapat melihat air terjun yang keluar dari sela-sela pohon gambung yang rindang. Enam titik air yang tercurah dari atas bukit ini bagaikan kelambu sehingga penduduk setempat pun menyebutnya sebagai Air Terjun Benang Kelambu. Di kawasan ini terdapat dua kelompok air terjun setinggi sekitar 40 meter. Kelompok pertama terdiri dua air terjun, sedangkan kelompok kedua, yang menjadi air terjun utama, terdiri dari empat air terjun.

Karena sudah terlanjur basah, peserta tanpa ragu mandi di air terjun ini.  Apalagi menurut kepercayaan masyarakat setempat, setiap mandi di tempat ini, maka seseorang dapat terlihat satu tahun lebih muda.

Keceriaan di Bus
OLYMPUS DIGITAL CAMERASeperti sudah menjadi tradisi, bagi-bagi doorprize adalah hal yang wajib dilakukan setiap penyelenggaraan Explore Indonesia. Karena waktu yang singkat, pembagian pun dilakukan di atas bus. Semua peserta mendapatkan doorprize berupa voucher berlangganan dari Get Lost dan Panorama, voucher belanja dari Teh Kotak, serta voucher dari Kaffein. Keceriaan tak henti sampai di situ – berhubung di bus ada fasilitas karaoke, beberapa peserta pun turut menyumbangkan suaranya untuk hiburan di sepanjang perjalanan.

Serunya rangkaian trip Explore Indonesia juga akan terus berlanjut dengan Explore Indonesia Goes To Derawan Islands pada 11-14 Desember 2014. Untuk informasi dan pendaftaran, hubungi Alfons di 0838 7274 1050.