• Twitter
  • Facebook

Mengeksplor Keistimewaan Yogyakarta

Dengan dukungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Hotel Santika Premiere Jogja, Tigerair Mandala, Teh Kotak, dan Polygon, pada 28 Februari – 2 Maret 2014, kami mengadakan trip bersama pembaca dalam rangkaian kegiatan Explore Indonesia. Diikuti 27 peserta dari berbagai usia, fotografer perjalanan Barry Kusuma pun turut mendampingi untuk membagikan tips agar mereka dapat membawa pulang foto-foto yang bagus. Yogyakarta dipilih sebagai tujuan pertama perjalanan rutin program Explore Indonesia karena popularitasnya dan tentu saja karena selalu terdapatnya hal baru yang ditawarkan.

Mempersiapkan perjalanan ini juga merupakan “petualangan” tersendiri. Dua minggu sebelum keberangkatan, Gunung Kelud mengalami erupsi dan abu vulkaniknya sampai ke Yogyakarta. Untungnya ketika mendarat di Bandara Adisucipto, Yogyakarta dalam keadaan cerah. Segala kekhawatiran pun sirna dan yang tertinggal hanyalah semangat untuk mengikuti berbagai agenda seru.

Walau peserta harus berkumpul di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta pukul 04:00 WIB karena pesawat berangkat pukul 05:50 WIB, dengan masih terkantuk-kantuk semua tiba tepat waktu. Malah ada beberapa yang tiba lebih awal dari waktu yang ditentukan. Pesawat pagi memang ada plus-minusnya – harus bangun subuh dan beberapa peserta bahkan mengaku tidak tidur semalaman – namun sesampainya di tujuan bisa langsung mengeksplor tempat. Untuk mengganjal perut, peserta dibagikan roti dari Kaffein, karena sesampainya di Yogyakarta, mereka akan langsung dibawa ke lereng Gunung Merapi.

Serunya Off-road
SAMSUNG CSCTiba di Yogyakarta, enam peserta – keluarga dengan empat orang anak – yang memang berdomisili di kota tersebut sudah dijemput. Mereka datang dengan bungkusan Nasi Gudeg untuk dimakan di bus. Ketika melihat mereka lahap menyantap makanan khas Yogyakarta tersebut, peserta lain tak dapat membendung terbitnya air liur.

Untuk mengusir kantuk dan mencairkan suasana, di dalam bus Tour Leader memperkenalkan setiap peserta, termasuk fotografer Barry Kusuma yang kemudian memberikan tips-tips praktis fotografi pemandangan. Peserta juga diinformasikan untuk rajin mengumpulkan foto-foto yang mereka ambil selama perjalanan ke panita untuk mendapatkan sebuah unit sepeda dari Polygon. Tak harus menjepret dengan kamera, foto hasil jepretan smartphone pun diterima.

Di lereng Merapi lima buah jip terbuka sudah menunggu. Tak ada ketakutan terpancar di wajah peserta untuk mengunjungi tempat yang masih menyisakan kesan seram karena letusannya ini. Kendaraan off-road memang dibutuhkan untuk dapat menembus kawasan yang pernah diterjang debu panas ini. Pemberhentian pertama adalah Museum Hartaku yang menyimpan sisa-sisa harta pribadi warga sekitar, mulai dari perkakas rumah, peralatan dapur, perabotan hingga kendaraan bermotor dan hewan ternak yang tinggal tulang-belulang. Museum ini bertempat di sebuah rumah milik warga yang sebagian sudah rusak akibat debu panas. Dari situ, perjalanan dilanjutkan naik jip ke perkampungan yang telah rata dengan tanah.

Mengenal Puteri-puteri Keraton
SAMSUNG CSCHari itu hari Jumat. Sebagian peserta pria harus melakukan kewajiban Sholat Jumat, sehingga peserta harus terbagi ke dalam dua kelompok. Selagi menunggu yang Sholat Jumat, yang lain masuk ke Ullen Sentalu. Museum yang resmi berdiri tahun 1997 ini didedikasikan kepada putri-putri Keraton Yogyakarta dan Surakarta yang ternyata banyak menyimpan bakat dan prestasi mengagumkan. Lokasinya masih di sekitar Gunung Merapi, yaitu Kaliurang, museum yang dikelilingi kebun cantik ini membuat peserta mengetahui bahwa GBRAy Adipati Pakualam VII mempunyai hobi merancang busana, Gusti Ratu Emas yang merupakan istri dari Sunan Paku Buwono X ternyata bertangan dingin meracik beragam resep masakan. Sedangkan Partini Djajadiningrat, anak dari Mangkunegara VII, adalah seorang novelis yang telah banyak menghasilkan karya. Tentunya wanita-wanita berbakat ini tidak boleh menonjolkan dirinya di lingkungan Keraton, terlebih sebelum tahun 1940.

Lewat tengah hari, peserta yang sudah kelaparan diajak makan siang di Jejamuran di daerah Sleman. Sesuai namanya, menunya serba jamur, seperti Sate Jamur, Jamur Bakar, Jamur Goreng, Tongseng Jamur hingga Tom Yum Jamur.

Bersore di Candi
SAMSUNG CSCKenyang santap siang, eksplorasi beralih ke Candi Ratu Boko yang terkenal sebagai spot untuk menikmati pemandangan matahari terbenam. Ketika itu sudah sore dan peserta dibebaskan untuk mengeksplor peninggalan abad ke-8 yang dulunya merupakan istana ini. Meski hanya tersisa puing-puing, tapi keanggunan Ratu Boko masih terasa.

Menikmati Candi Ratu Boko memang tak bisa sebentar. Buktinya, tanpa terasa hari sudah mulai gelap dan waktu makan malam hampir tiba. Kali ini Rumah Pohon dijadikan pilihan. Rumah makan berkonsep unik ini menggunakan bambu sebagai bahan yang mendominasi struktur bangunan berlantai duanya dengan nuansa alam yang kental. Menu-menu tersedia dengan nama plesetan, seperti Nasi Guendheng, Sop Buntut Mak News dan Es Teller21.

Hari yang panjang itu ditutup dengan check-in ke Hotel Santika Premiere Jogja yang berada di tengah kota. Dibalut suasana Jawa modern, menu tradisional yang disajikan Restoran Pandansari di hotel ini siap melayani tamu selama 24 jam. Jadi tak perlu khawatir jika kelaparan di tengah malam. Di sinilah pulalah para peserta akan sarapan keesokan harinya sebelum kembali mengeksplor Yogyakarta.

Naik Bukit, Turun Gua
SAMSUNG CSCSetelah sarapan di hotel, pukul 08:00 WIB menuju Gua Jomblang dan Pindul yang sedang naik daun di Gunungkidul. Semua peserta pun sudah membawa baju ganti karena mereka akan berbasah-basahan. Jomblang memang bukan sembarang gua. Bentuk dan kondisi alam di sekitarnya membuat sinar matahari yang masuk ke gua ini terlihat bagai “cahaya Ilahi”. Untuk masuk ke dalamnya diperlukan peralatan khusus, mengingat gua ini adalah gua vertikal. Karena “lift” – berupa tali yang ditarik oleh tenaga manusia – hanya dapat menarik dua orang dalam sekali jalan, maka peserta harus sabar mengantre. Supaya menghemat waktu, peserta dibagi ke dalam dua kelompok. Yang sudah di bawah gua tak perlu menunggu sampai semua turun dan dapat lebih dulu menuju tempat jatuhnya cahaya yang menjadi ikon Jomblang. Untuk foto yang sempurna, matahari harus tepat di atas kepala. Bergeser sedikit atau lewat tengah hari, ray of light yang masuk ke gua sudah tidak sesempurna sebelumnya.

Setelah semua peserta dikerek naik, nasi kotak sudah tersedia untuk makan siang. Tenaga harus dipulihkan dengan makanan karena jadwal selanjutnya adalah bermain air di Gua Pindul yang jaraknya hanya 15 menit dari Jomblang. Tak perlu repot naik turun bebatuan licin, bagian dalam Gua Pindul bisa dinikmati dengan berbaring di ban bekas sambil bersantai melihat stalagmit alami yang cantik.

Mengapung dalam Gelap
SAMSUNG CSCKarena gelap dan hanya pemandu yang memegang senter, peserta diinstruksikan untuk berpegangan tangan. Memasuki gua, cahaya masih remang-remang, namun semakin ke dalam, cahaya semakin menghilang dan gua gelap gulita. Pemandu sengaja mengajak peserta berhenti di tengah kegelapan. Setelah mematikan senter, ia pun mengajak peserta merenung, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke ujung gua. Setelahnya, peserta diperbolehkan meloncat dari atas tebing ke air untuk kemudian berenang di air yang kehijauan.

Waktu memang tak terasa berjalan kalau kita bersenang-senang. Selesai membersihkan diri di fasilitas toilet yang bersih, hari sudah senja. Untuk menyemarakkan suasana, di dalam bus Tour Leader kembali menggelar kuis dengan berbagai hadiah menarik. Turun dari Gunung Kidul, peserta makan malam di Bale Raos di alun-alun utara Keraton.

Keistimewaan tempat ini adalah menyajikan makanan kesukaan para sultan. Dengan suasana Keraton, peserta diajak mencicipi menu asli dari dapur Keraton, seperti Sanggar (daging sapi panggang rempah) dan Bir Jawa yang merupakan menu favorit Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Sedangkan Sup Timlo dan Bebek Suwar Suwir adalah menu kesukaan Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Dengan tubuh lelah namun hati senang, peserta kembali ke Hotel Santika Premiere Jogja untuk beristirahat. Saat itu sekitar pukul 21:00 WIB di malam minggu. Kabarnya beberapa peserta sempat keluar hotel setelah mandi untuk memburu oleh-oleh di Malioboro yang tak jauh dari tempat menginap.

Mengayuh
PMM_9189Setelah sarapan pukul 06:00 WIB, peserta diajak melihat Yogyakarta dari atas sepeda. Dengan naik sepeda Polygon, mereka menggowes dengan rute Stasiun Tugu, Malioboro, mampir di Bakpia Pathok No. 25 untuk melihat pembuatan dan belanja kue khas Yogyakarta ini, kemudian lanjut ke Taman Sari. Setelah memarkir sepeda, peserta diajak melihat-lihat bekas istana peristirahatan sultan yang megah itu. Tempat yang di masa lalu dikelilingi danau dan kanal ini membuat Sultan masuk ke Taman Sari dengan sampan. Tak hanya kompleks pemandian yang megah, namun peserta juga diajak keliling jalan kaki ke pemukiman Abdi Dalem Keraton di sekitar Taman Sari. Beberapa penghuninya masih memproduksi batik secara tradisional.

Jadwal selanjutnya adalah menikmati makan siang di Omah Bu Ageng yang sedang naik daun karena kelezatan masakan rumahannya, seperti Pangkal Lidah Goreng, Sayur Lodeh, Ayam Nylekit dan Bubur Duren Mlekoh. Kombinasi sempurna interior dan hidangan khas Yogyakarta yang nikmat ini mungkin karena rumah makan ini dikelola oleh budayawan Butet Kertaradjasa dan istrinya. Sambil menikmati santap siang, panitia membacakan pengumuman foto terbaik yang jatuh kepada Siwasit Chim Ngarm asal Thailand dengan foto Merapinya. Seperti yang dijanjikan, ia mendapatkan sebuah unit sepeda Polygon. Selamat!

Desa Eskimo

PMM_9613Setelah makan siang, eksplorasi berlanjut ke Desa Nglepen yang berlokasi di Kabupaten Sleman. Tempat ini adalah relokasi pengungsi gempa yang melanda Yogyakarta di tahun 2006. Berkat bantuan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), kawasan ini menjadi perumahan dengan konsep anti gempa. Uniknya, semua rumah di sini berbentuk seperti iglo ala Eskimo, sehingga Desa Nglepen kemudian disebut sebagai Kampung Eskimo. Konon struktur bangunan ala iglo ini diyakini tahan gempa dan angin kencang hingga 450 kilometer per jam.

Berpisah, Menambah Teman
Kunjungan ke Desa Nglepen menjadi penutup trip Explore Indonesia kali ini. Meski lelah, tapi penerbangan kembali ke Jakarta menggunakan Airbus 320 milik Tigerair Mandala yang kabin ekonominya nyaman membuat peserta dapat sejenak melepas lelah. Para peserta yang tadinya saling asing pun telah menjadi teman baik, seiring dengan saling bertukarnya nomor kontak, alamat email, maupun akun media sosial. Acara bertukar foto pun sepertinya akan berlanjut di dunia maya.
Tujuan Explore Indonesia berikutnya adalah Ujung Kulon dengan menginap di Tanjung Lesung Resort pada 15-18 Mei. Pastinya seri perjalanan kedua Explore Indonesia ini akan lebih seru dan bertabur hadiah. Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi david@panoramapublication.com.

Getlost Menu