• Twitter
  • Facebook

Memenukan Ora, Surga Tersembunyi

Menjelaskan letak Pantai Ora di Pulau Seram tak cukup dengan satu kalimat saking panjangnya perjalanan. Mungkin benar, tak ada jalan mudah menuju surga!


OLYMPUS DIGITAL CAMERAMasih dalam rangkaian trip Explore Indonesia, kali ini Get Lost didukung Panasonic Lumix mengajak para pengguna kamera Lumix – dikenal dengan julukan Lumix Lovers – mengeksplor Pantai Ora di Pulau Seram, Maluku Tengah. Acara Explore Indonesia with Lumix atau #LumixKeOra ini diikuti 12 peserta, termasuk penyanyi yang terkenal lewat Youtube, Gamaliel Krisatya Tapiheru.

Sebelum acara diselenggarakan pada 14-17 September 2014, Panasonic Lumix telah mengadakan kompetisi foto di Instagram dengan tagar #firtingwithnature. Lebih dari 12.000 foto yang masuk diseleksi oleh dewan juri, di antaranya psikolog, penulis, dan motivator Alexander Sriewijono. Dari kompetisi tersebut, terpilihlah Danar Tri Atmojo sebagai pemenangnya dan hadiahnya mengikuti perjalanan #LumixKeOra secara gratis.

Karena perjalan kali ini lebih untuk hunting foto, sebelum berangkat peserta mempersiapkan kamera andalannya masing-masing. Karena merupakan trip fotografi, maka dalam perjalanan ini juga turut serta fotografer perjalanan Barry Kusuma dan Yuliandi Kusuma yang selalu siap membagikan berbagai tips yang berguna agar peserta dapat membawa pulang foto-foto bagus.


HARI 1

Jalan Panjang Menuju Surga

Perjalanan dimulai dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, di mana peserta naik pesawat tengah malam selama lima jam menuju Bandara Pattimura Ambon. Di pesawat tentu saja peserta memaksakan diri untuk tidur, mengingat panjangnya perjalanan yang harus ditempuh. Sesampainya di Ambon, perjalanan masih harus dilanjutkan naik mobil selama 45 menit menuju Tulehu, di mana kapal untuk menyeberang ke Pulau Seram telah menunggu. Perjalanan naik kapal cepat ke Pelabuhan Amahai di Pulau Seram ini sekitar tiga jam.

Ketika kapal merapat di Pulau Seram, perjalanan belum berakhir karena peserta masih harus menuju Desa Saleman selama tiga jam lagi perjalanan. Walau jaraknya tak terlalu jauh dari pelabuhan, namun karena kondisi jalan yang tak terlalu mulus dengan medan yang berkelok menembus bukit, peserta bagai sedang mengikuti rally off-road. Untungnya selama perjalanan mata tak henti dibuat takjub dengan pemandangan yang cantik dan udara yang bebas polusi. Di Desa Saleman, perahu yang disediakan Ora Beach Resort telah menanti untuk mengantar peserta ke tujuan akhir, yaitu Pantai Ora.

Terpukau Ora

Waktu menunjukkan pukul 13:00 WIT ketika peserta akhirnya menjejakkan kaki di dermaga Ora Beach Resort. Meski baru saja melalui perjalanan panjang, energi peserta seketika langsung terisi kembali. Lupa lapar dan lelah, masing-masing segera mengeluarkan kamera untuk mengabadikan keindahan yang terhampar di depan mata. Paduan resor terapung dengan tebing, bukit, dan perairan berkoral indah, membuat apa yang tersaji siang itu mengingatkan akan resor-resor mewah di Bora-Bora yang kerap berseliweran di saluran travel.

Ora Beach Resort merupakan satu-satunya penginapan di Taman Nasional Manusela. Terdiri enam cottage kayu dan beratapkan jerami, lokasinya yang terpencil menyediakan peristirahatan bagi mereka yang rindu kembali ke alam.

Snorkeling di Sisa Hari

OLYMPUS DIGITAL CAMERASetelah beranjak ke kamar masing-masing, peserta langsung tidak sabar untuk menceburkan diri ke beningnya air yang mengelilingi resor. Lagipula setelah perjalanan panjang, air hangat dan pemandangan yang indah akan dapat kembali menyegarkan tubuh. Karena perairan di sekitar resor juga ditumbuhi karang, maka snorkeling adalah kegiatan mengasyikkan untuk dilakukan sore itu. Peserta pun dapat tinggal meloncat ke air dari kamar masing-masing. Benar saja, baru juga kepala terbenam di air, langsung terlihat hamparan karang dan ikan warna-warni, salah satunya ikan badut yang bersimbiosis hidup di atas koloni anemone.

Beberapa karang memang tumbuh di bagian pantai yang dangkal. Namun karena peserta semuanya adalah penikmat pantai dan penyuka keindahan alam bawah air, maka mereka saling mengingatkan untuk tidak terjun di bagian yang dangkal. Selain dapat membahayakan diri sendiri, hal tersebut juga dapat berisiko merusak karang. Terlebih jenis karang yang ada di sekitar Pantai Ora adalah jenis karang keras yang merupakan tempat bagi ikan untuk menyimpan telur dan suaka bagi ikan-ikan mudah untuk tumbuh besar.

Tak terasa hari pertama berlalu. Walau sebagian besar peserta baru saling kenal, namun panjangnya perjalanan dan indahnya resor yang ditempati, di akhir hari pertama itu mereka bagai telah saling kenal bertahun-tahun.

Setelah makan malam, deburan ombak dan taburan bintang di atas kepala membuat peserta cepat mengantuk. Tak perlu waktu lama untuk satu per satu peserta pamit menuju kamar masing-masing dan beristirahat di tengah suara alam yang memabukkan.


HARI 2

Tebing Karst

Lagu anak-anak yang liriknya “bangun tidur ku terus mandi” ternyata benar-benar dipraktikkan oleh peserta. Terbangun bersama matahari, mereka langsung menceburkan diri ke air dari teras belakang kamar mereka. Setelah tubuh segar, barulah mereka sarapan agar mendapatkan energi yang cukup untuk melewatkan berbagai acara seru di hari itu.

Jadwal pertama setelah sarapan adalah mengelilingi Taman Nasional Manusela menggunakan kapal motor. Perairan yang dikelilingi tebing karst yang eksotis ini terbentang antara Pantai Ora dan Desa Sawai.

Tebing pertama yang didatangi dinamai Tebing Batu oleh penduduk setempat. Tempat ini memiliki gua kecil yang dapat dimasuki saat air laut sedang surut. Sesudahnya, peserta diajak ke Tebing Karst, di mana di sini peserta menikmati pemandangan sambil minum air kelapa segar dan beristirahat di gazebonya yang terapung di atas laut. Peserta yang bernyali memberanikan diri untuk menyusuri titian kayu yang terpasang di pinggiran tebing. Perairan di bawah tebing-tebing ini merupakan lokasi snorkeling terbaik di kawasan Taman Nasional Manusela.

Keramahan Sawai

P1100727Penjelajahan kemudian dilanjutkan ke Desa Sawai yang berada di dalam Taman Nasional Manusela. Desa wisata yang telah dikembangkan secara serius ini adalah salah satu desa terindah di Indonesia. Khas masyarakat Maluku yang ramah, siang itu pun peserta disambut hangat bak menyambut kedatangan anggota keluarga yang pulang ke rumah.

Melihat setiap peserta menenteng kamera, anak-anak pun tak segan untuk minta difoto, sehingga siang itu di setiap kartu memori peserta tercetak foto wajah eksotis anak-anak Indonesia Timur nyang sedang tertawa lebar. Pengalaman siang itu bertemu masyarakat Desa Sawai juga mengingatkan peserta akan arti sebuah kebahagiaan. Tak perlu memiliki banyak untuk menjadi bahagia. Buktinya, masyarakat Desa Sawai yang tinggalnya terpencil dapat tetap tertawa lebar dan bermurah hati dalam menyambut tamu.

Di tengah desa pun terdapat sebuah kolam raksasa yang dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, selain pasar, di sini mereka melakukan sosialisasi. Acara mandi dan mencuci akan sekaligus dimanfaatkan sebagai ajang bertukar cerita dan lelucon. Sebagai manusia kota, peserta lagi-lagi diingatkan akan indahnya keserderhaan melalui hal-hal yang sudah jarang ditemui di kota besar.

Desa Sawai ternyata juga merupakan habitat beberapa jenis burung endemik, seperti kakatua Seram, nuri kepala hitam, burung bayan, dan burung rangkong. Sayangnya karena perburuan besar-besaran, kini populasi nuri kepala hitam sudah menurun drastis.

Ora dari Atas

Sehabis makan siang, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Saleman, yaitu desa yang terletak hanya 10 menit perjalanan naik kapal motor dari Ora Beach Resort. Di sana telah menunggu Alwi, pemandu lokal yang akan mendampingi peserta untuk trekking ke puncak Bukit Kelinanti.

Setelah berjalan kaki selama 45 menit dengan trek yang menanjak – meski tidak terjal hingga membuat kehabisan nafas – peserta akhirnya sampai di sudut bukit yang menjorok ke laut. Dari atas bukit inilah terhampar kemegahan Taman Nasional Manusela. Pegunungan Binaiya pun dapat terlihat dari sini.

Tanpa aba-aba, peserta langsung mengoperasikan kamera untuk mengabadikan paduan pemandangan bukit, gunung, dan Desa Saleman. Ora Beach Resort pun terlihat dari sini, meski sangat kecil. Semilir angin menemani suara shutter yang bersahutan di puncak Bukit Kelinanti siang itu.

Turun dari Kelinanti, peserta menyegarkan diri dengan merendam kaki yang pegal di Pantai Air Belanda. Berlokasi tak jauh dari Pantai Ora, pantai ini dinamakan Air Belanda karena konon Belanda menemukan sumber mata air tak jauh dari tepi pantai. Airnya tidak payau, melainkan tawar dan dingin seperti air yang berasal dari mata air pegunungan.


HARI 3

Rujak Natsepa

P1110387Dengan berat hati, peserta pun harus meninggalkan keindahan Pantai Ora dan beranjak ke Masohi, ibukota Kabupaten Maluku Tengah. Untuk mencapai tempat ini dibutuhkan dua jam perjalanan dari Pelabuhan Tulehu.

Pemberhentian pertama di Masohi adalah rujak khas yang banyak dijual di sepanjang Pantai Natsepa. Ratusan kios yang berjajar hampir semuanya menawarkan jajanan, yaitu rujak, sehingga kemudian rujak di sini dikenal sebagai Rujak Natsepa.

Rujak Natsepa memiliki kelebihan, yaitu pada pemakaian kacang, asam Jawa, dan belimbing wuluh untuk bumbunya. Bahkan dalam proses pengulekan bumbunya, cukup dilakukan sebanyak enam kali saja. Keberadaan rujak Natsepa ini hadir sejak tahun 1800-an, di mana tentara Portugis kerap menikmati buah-buahan setempat. Dari situlah masyarakat Ambon kemudian menemukan ide guna memadukan buah-buahan dengan bumbu kacang yang diberi rasa pedas dan asam yang menyegarkan.

Ada ungkapan bahwa belum ke Ambon kalau belum mengunjungi Pantai Natsepa. Siang itu peserta telah benar-benar menjejakkan kaki di Ambon karena telah mengunjungi Pantai Natsepa sambil mengudap rujak segar.

Tidur Nyaman dan Nyenyak

Bila saat berangkat semua peserta masih semangat melakukan perjalanan darat selama tiga jam dengan medan yang ekstrem, saat perjalanan pulang, beberapa peserta justru mengalami mabuk darat akibat kelelahan. Idealnya perjalanan ke Pantai Ora memang dilakukan dengan santai tanpa terburu-buru, yaitu setidaknya mengalokasikan lima hari untuk perjalanan pulang-pergi plus menginap.

Untungnya malam itu peserta menginap di hotel yang nyaman di Ambon, yaitu Amaris Hotel Ambon, sehingga sempat untuk memulihkan stamina sebelum pulang.


HARI 4

Menunggu detik-detik penerbangan kembali ke Jakarta, peserta memiliki banyak waktu luang untuk dihabiskan. Beberapa mengunjungi pasar tradisional untuk berburu foto Human Interest, sementara sebagian lagi memilih berbelanja oleh-oleh khas Ambon yang banyak terbuat dari sagu dan kenari.

Meski enggan pulang dan kembali melakukan rutinitas, namun dengan berat hati peserta Explore Indonesia with Lumix harus meninggalkan Ambon. Walau begitu hati senang dan kartu memori kamera telah terisi penuh.