• Twitter
  • Facebook

D’333 TRAVELERS KE LOMBOK, WAKATOBI, DAN KOMODO

Bersama Lenovo Smartphone, Panorama Media menggelar lomba foto D’333 Travelers melalui Instagram untuk mencari tiga pejalan untuk menuju tiga destinasi yang sedang diprioritaskan Kementerian Pariwisata pada 2016. Dengan menggandeng tiga influencer, yaitu Hendri Take yang merupakan praktisi yoga urban, Yovita Ayu Liwanuru yang menyandang gelar Miss Scuba Indonesia pada 2012, dan Agus Indrawan yang disukai pengikut Instagram-nya karena unggahan foto-foto tanah kelahirannya, Bali, digelarlah ajang ini pada 10 November hingga 31 Desember 2016. Didukung Kementerian Pariwisata, kompetisi ini terbagi dalam dua tahap penjurian, yakni Top 10 dan Top 3, di mana ketiga pemenang, yakni Dyan Kurnianto Prajitno terpilih untuk menjelajahi Lombok bersama Hendri Take, Harival Zayuka ke Wakatobi bersama Yovita Ayu Liwanuru, dan Ruli Maun ke Labuan Bajo bersama Agus Indrawan.

LOMBOK

Jadwal pertama pemenang D’333 Travelers adalah ke Lombok pada 20 hingga 23 Januari 2017. Dyan Kurnianto Prajitno sudah pernah ke Lombok, dan bahkan terbilang sering. Menurut penuturannya, ia telah ke Gili Kondo, Gili Bidara, Gili Sudak, Gili Kedis, dan sejumlah gili lainnya, selain Gunung Rinjani, serta desa-desa adat suku Sasak. Walau begitu, perjalanan kali ini tak mengendurkan semangatnya, karena dari tempat-tempat yang akan dikunjungi kali ini, ia belum pernah ke Gili Air-Meno-Trawangan maupun Air Terjun Tiu Kelep yang tersembunyi. Sebaliknya, Hendri Take belum pernah ke Lombok dan merasa beruntung dapat berpetualang bersama seseorang yang telah cukup tahu tentang destinasi yang dituju.

Mereka sengaja diberangkatkan dengan pesawat paling pagi dari Jakarta agar dapat tiba di Lombok pukul 09:00, sehingga hari masih panjang untuk dapat mengunjungi beberapa tempat menarik. Dari bandara, mereka menuju Desa Sade di Lombok Tengah untuk mengintip kehidupan suku Sasak,termasuk melihat arsitektur lumbung yang autentik dan dirancang sedemikian rupa agar ruangan tetap sejuk ketika cuaca terik dan hangat di malam hari. Sebelum makan siang di daerah Kuta, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Tanjung Aan yang terkenal akan pasirnya yang mirip bulir merica. Setelah makan siang, sebelum menuju Novotel Lombok untuk beristirahat, mereka diajak mampir ke Pantai Kuta, Pantai Mawun, dan Pantai Selong Belanak.

ATRAKSI LENGKAP

Keesokan harinya, dalam perjalanan menuju Bangsal untuk menyeberang ke Gili Trawangan, para peserta mampir di Bukit Malimbu untuk menikmati panorama Pantai Senggigi dari ketinggian.

Penyeberangan ke Gili Trawangan berlangsung lancar dan setibanya di sana mereka diajak terlebih dulu check-in di Hotel Vila Ombak. Setelah meletakkan bawaan, mereka tidak dapat segera menikmati kamar yang nyaman karena kapal sudah menunggu untuk mengantar snorkeling di sekitar Gili Air-Meno-Trawangan, yang diselingi dengan menikmati makan siang di Gili Air. Setelah puas bermain air, menjelang sore mereka kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak, sebelum diajak bersepeda keliling pulau sambil menikmati pemandangan matahari terbenam.

Di hari terakhir, aktivitas diawali dengan menikmati matahari terbit di pantai yang tak jauh dari hotel, lalu sarapan dan berkemas untuk kembali ke Mataram. Sebelum menuju bandara, mereka diajak mampir ke Air Terjun Tiu Kelep, yang untuk mengaksesnya harus menuruni ratusan anak tangga selama sekitar setengah jam. Setinggi 40 meter, sumber air terjun ini berasal dari Gunung Rinjani, sehingga airnya pun sedingin air es. Di bawah air terjun ini terdapat kolam pemandian, yang walau kecil, namun cukup menyenangkan untuk latar berfoto maupun sekadar menikmati udara pegunungan.

Walau tak dapat berlama-lama berada di air terjun karena harus mampir makan siang dan berbelanja suvenir khas Lombok, namun perjalanan singkat menjelajah Lombok itu meninggalkan kesan yang mendalam bagi kedua D’333Travelers.

Hendri Take

“Saya belum pernah mengeksplor Lombok, karena dikunjungan terakhir hanya sempat ke Gili Trawangan, jadi semua destinasi yang dikunjungi kali ini berkesan, baik pantai-pantai tersembunyi, desa adat, maupun air terjunnya. Dari sekian banyak acara, yang paling saya suka adalah menikmati matahari terbenam di Selong Belanak dan bermain air di Air Terjun Tiu Kelep. Dyan sebagai teman perjalanan juga membuat perjalanan semakin menyenangkan,karena walaupun kami baru kenal, namun kami  langsung nyaman dengan keberadaan satu sama lain. Mungkin memang begini jika orang-orang yang hobi traveling berkumpul.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dyan Kurnianto Prajitno

“Trip D’333 Travelers sangat seru, terutama ketika menikmati senja super dramatis di hari pertama,yaitu di Pantai Selong Belanak. Paket perjalanan kali ini pun lengkap dengan pilihan akomodasi-akomodasi yang memang terbaik di Lombok. Teman seperjalanan Hendri Take juga fotogenik, sehingga membantu saya mendapatkan foto-foto perjalanan yang bagus. Sayangnya, ketika snorkeling, kondisi koral di Gili Trawangan rusak, selain tak ada edukasi dari pemandu untuk memperlakukan terumbu karang dengan berhati-hati. Mungkin lain kali ke Lombok dapat melewatkan Gili Air-Meno-Trawangan, dan lebih mengeksplorasi gili-gili lain yang lebih bagus dan masih sepi turis.”

 

WAKATOBI

Yovita Ayu Liwanuru bersama Harival Zayuka ke Wakatobi pada 24 hingga 26 Februari 2017, namun banyak kejadian tak terduga menimpa mereka. Di hari keberangkatan, pesawat mereka terlambat tiba di Wangi-wangi, sehingga mereka harus ketinggalan kapal menuju Pulau Tomia dan terpaksa menginap satu malam di Wakatobi Patuno Resort di Wangi-wangi.

Karena ketinggalan kapal itulah mereka menjadi punya waktu ekstra untuk menjelajahi perkampungan suku Bajo di Wangi-wangi dan mencicipi masakan khas Wakatobi, seperti parende atau gulai ikan dengan belimbing dan cabe rawit, serta disantap bersama kasuami yang terbuat dari singkong parut dan dikonsumsi sebagai pengganti nasi. Suku Bajo di Wakatobi tidak semuanya nomaden dan mengembara di lautan, melainkan ada yang telah menetap di darat dan tinggal dirumah-rumah terapung di tepi pantai. Di hari itu mereka juga sempat menjelajah di sekitar Wakatobi Patuno Resort dan menemukan mata air di tepi pantai yang jernih. Hari pertama itu ditutup dengan menikmati pemandangan matahari terbenam di Bukit Toliamba.

 

CUACA BURUK

Di hari kedua, cuaca memburuk dengan awan mendung bergelantung di langit sepanjang hari. Namun mereka berhasil menyeberang ke Pulau Tomia dengan selamat. Walau mendung dan kurang kondusif untuk menghasilkan foto-foto perjalanan yang bagus, Yovita dan Harival tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menjelajahi Pulau Tomia dengan berkunjung ke Liang Kuri-Kuri yang mengingatkan akan hamparan tebing di Apparalang, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Di hari ketiga, barulah Yovita dan Harival menikmati pesona utama Wakatobi, yaitu menyelam. Yovita telah beberapa kali menyelam di Wakatobi, namun bagi Harival yang baru lulus sertifikasi Open Water Diver, Wakatobi adalah penyelaman pertamanya sebagai penyelam rekreasi. Belum sampai ke situs selam pertama,yaitu Eel Valley, badai menerjang kapal yang mereka tumpangi. Sekitar 15 menit setelah sampai di Eel Valley, badai pun berlalu dan dengan didampingi pemandu, acara menyelam tetap dilanjutkan. Setelah 45 menit di bawah air, mereka kembali ke permukaan dan ternyata badai kembali menghantam, sehingga mereka harus menunggu badai berlalu dengan terombang ambing di atas kapal. Setelah satu jam, kapal perlahan menuju situs selam yang kedua, yaitu Roma. Dua kali dihantam badai tidak menyurutkan antusiasme untuk menikmati alam bawah laut Wakatobi. Benar saja, keindahan situs Roma membuat mereka lupa akan badai. Lima menit pertama, mereka bertemu ular laut yang terkenal sangat mematikan dan sepuluh menit berselang, lionfish dan kawanan barakuda ikut menampakkan diri. Di akhir penyelaman, mereka melihat rose coral (Manicina areolata) dan seekor penyu.

TAK BISA PULANG

Hari keempat adalah jadwal pulang, dimana mereka harus kembali ke Wangi-wangi untuk mengejar pesawat ke Makassar dan kemudian ke Jakarta. Namun, hari itu badai kembali mengamuk dan bahkan lebih buruk dari hari-hari sebelumnya, sehingga tidak ada kapal yang berani melaut. Yovita dan Harival terpaksa tinggal lebih lama di Tomia dan memundurkan tiket penerbangan. Untung keduanya sudah lebih  dekat, sehingga ketika mereka harus terdampar di Tomia, mereka tetap menikmati kebersamaan. Setelah cuaca membaik hari itu, mereka berinisiatif ke Pantai Kolosoha, kemudian ke Pantai Huntete, di mana dalam perjalanan, badai kembali muncul, sehingga mereka bergegas kembali ke penginapan dengan sebelumnya singgah untuk menyeruput kopi dan menikmati aneka gorengan.

Kapal kembali beroperasi keesokan harinya,sehingga mereka pun akhirnya dapat kembali ke Wangi-wangi dan pulang ke tempat asal masing-masing. Tiga malam di Wakatobi itu sepertinya akan membekas di ingatan mereka untuk waktu yang lama, baik keindahan maupun kisah-kisah penyedap yang dialami selama perjalanan.

Yovita Ayu Liwanuru

“Kapal kami dihantam badai dalam perjalanan ke situs selam, namun begitu berada di bawah air, seperti tidak terjadi apa-apa. Suasana menyelam seperti inilah yang selalu membuat saya kecanduan. Wakatobi tidak cuma cantik di bawah laut, namun pemandangan di daratnya pun tak kalah menawan. Saya paling terkesima dengan Liang Kuri-kuri di Tomia. Perjalanan kali ini juga kembali mengajarkan saya akan pentingnya mensyukuri hal-hal yang biasanya dengan mudah kita abaikan, seperti kemunculan matahari, yang walau sebentar, namun merupakan kenikmatan yang luar biasa. Dengan LenovoP1 Turbo yang baterainya tahan lama, setelah digunakan seharian untuk berfoto, mendengarkan lagu, dan mencari sinyal 3G yang timbul tenggelam, saya tidak perlu sebentar-sebentar mengisi baterai, sehingga dapat lebih menikmati perjalanan.”

Harival Zayuka

“Ketika terpilih menjadi 20 besar dalam ajang D’333 Travelers, saya memang sudah yakin akan memenangkan perjalanan ke Wakatobi, karena melihat karya-karya finalis lain, tidak ada yang caption-nya seniat saya. Secara keseluruhan, penyelenggaraan acara ini sudah bagus, hanya saja lain kali perlu diberikan jadwal perjalanan secara mendetail sebelum berangkat, agar peserta mendapat gambaran tentang kegiatan yang akan dilakukan, sehingga dapat mempersiapkan diri maupun peralatan yang dibutuhkan. Untungnya memang cuaca menjadikan operator harus melakukan improvisasi di lapangan dan dengan teman seperjalanan yang menyenangkan seperti Yovita, apa pun yang dihadapi selama perjalanan tidak terasa membebani. Yang pasti, saya senang akhirnya dapat menikmati kecantikan bawah laut Wakatobi yang termasyhur.”

 

KEPULAUAN KOMODO

Agus Indrawan atau yang akrab disapa Gust Indra, pada 3 hingga 6 Februari 2017mengajak Ruli Maulana sebagai pemenang lomba foto D’333 Travelers ke Kepulauan Komodo. Berbeda dengan perjalanan sebelumnya ke Lombok dan Wakatobi, di mana semua peserta berangkat dari Jakarta, kedua peserta berangkat dari Bali, berhubung Gust Indra berdomisili di sana dan Ruli tinggal di Surabaya. Sesampainya di Bandara Komodo yang terbilang megah untuk ukuran Indonesia Timur, keduanya terlebih dulu diantar untuk check-in di Bintang Flores Hotel dan beristirahat sejenak.

BADAI PASTI BERLALU

Makan siang hari pertama itu, peserta diajak ke sebuah restoran di Jalan Trans Flores bernama Budi Luhur yang menyajikan menu khas Labuan Bajo, seperti Ikan Kuah Asam Philemon atau ikan segar yang diolah dalam kuah asam pedas berwarna kuning. Setelah makan, mereka menuju Air Terjun Cunca Wulang yang terletak sekitar 30 kilometer di timur Labuan Bajo. Sayangnya, di tengah jalan sebuah truk mengalami kecelakaan, sehingga Jalan Trans Flores tidak dapat dilalui. Hujan juga kemudian ikut memperparah keadaan, mobil pun akhirnya diarahkan kembali ke hotel.

Sambil menunggu hujan reda, Gust Indra dan Ruli pun saling bertukar pengalaman seputar perjalanan yang telah mereka lakukan dan ingin diwujudkan dalam waktu dekat. Selain sama-sama hobi traveling, keduanya pun sama-sama penggemar fotografi dan wisata petualangan. Ketika akhirnya cuaca membaik, keduanya menuju Bukit Sylvia di belakang Sylvia Resort Komodo di Pantai Waicicu. Untuk mendaki ke puncaknya dibutuhkan trekking ringan selama lima menit menyusuri jalan setapak. Berhubung habis diguyur hujan, jalan tanah ini licin sehingga peserta harus ekstra berhati-hati dalam melangkah. Sesampainya di puncak, walau mendung, pemandangan pesisir Labuan Bajo dari ketinggian itu tetap menyediakan objek foto yang menawan. Justru gumpalan awan mendungnya semakin menambah efek dramatis.

Sepanjang pagi di hari kedua, Labuan Bajo terus diguyur hujan, sehingga lagi-lagi rencana hari itu harus batal. Peserta dijadwalkan ke Gua Rangko yang didalamnya terdapat kolam dengan stalaktit indah. Sebagai gantinya, ketika cuaca membaik, Gust Indra dan Ruli sepakat kembali ke Bukit Sylvia. Kali kedua ke Bukit Sylvia, mereka berhasil mendapatkan gambar yang lebih cantik, karena ketika itu cahaya matahari melimpah dengan langit biru.

Sekembali dari Bukit Sylvia, mereka mampir membeli bekal untuk dibawa ke kapal yang akan berlayar keliling Kepulauan Komodo, kemudian menuju Dermaga Kampung Ujung. Di sana sudah menanti Aqua Luna Phinisi, kapal untuk berkeliling Pulau Rinca, Padar, dan Kelor. Perjalanan dari Labuan Bajo menuju Padar ditempuh sekitar empat jam, namun belum sampai setengah perjalanan, kapal mulai goyang karena gelombang yang tinggi dan hujan yang deras.

MENDAKI PADAR

Menjelang kapal bersandar di Pulau Padar, cuaca berangsur membaik dan matahari mulai menampakkan diri dari balik awan mendung. Padar yang terletak di antara Rinca dan Komodo merupakan pulau yang paling fotogenik di kawasan ini. Bentuk pulaunya memanjang dengan titik tertinggi di ujung utara. Dari puncak bukit, barulah jelas terlihat bentuk pulau yang berkontur unik ini. Dari pantai, untuk menuju puncak bukit diperlukan trekking sekitar 30menit, dan meski hari itu tidak terlalu terik, namun baru setengah perjalanan saja peserta sudah bermandikan peluh. Dari puncak bukit, terlihat Padar yang dibingkai pantai berpasir putih dengan topografi yang bak di zaman purba. Padar sudah tidak dihuni Komodo, sehingga aman untuk trekking.

“Tidur di kapal yang bergoyang serasa ditimang-timang,” canda Ruli ketika sarapan di hari ketiga, merujuk pada kejadian di malam sebelumnya. Malam itu memang kapal kembali dihantam badai, namun beruntung cuaca kembali cerah keesokan harinya, sehingga peserta dapat trekking di Loh Liang yang berada di Pulau Rinca dengan ditemani pemandu. “Loh Liang” dalam bahasa masyarakat setempat berarti Teluk Lubang. Dinamakan demikian, karena di sini banyak ditemukan lubang yang merupakan sarang komodo. Populasi komodo di Loh Liang setidaknya sekitar 2.200 ekor, dengan yang terbesar panjangnya hingga empat meter. Rusa sebagai makanan utama reptil purba ini cukup berlimpah di sini, untuk mengantisipasi agar mereka tidak kelaparan dan tidak menyerang manusia.

Dari Rinca, perjalanan dilanjutkan menuju salah satu pantai paling terkenal di Kepulauan Komodo, yaitu Pantai Merah yang pasirnya dipenuhi pecahan karang berwarna merah. Garis pantai di sini tidak panjang, namun pasirnya menyenangkan untuk duduk-duduk, selain beberapa meter dari bibir pantai terhampar karang yang indah untuk snorkeling. Namun, sebelum snorkeling peserta memutuskan untuk mendaki bukit untuk melihat pulau-pulau sekitar dari ketinggian.

NAPAS TERTAHAN DI KELOR

Semalaman badai kembali menyapu perairan Komodo, sehingga nakhoda pun kemudian memutuskan melabuhkan kapal di Dermaga Kampung Komodo demi alasan keselamatan. Baru ketika sarapan dan cuaca mulai membaik, kapal melaju menuju Taka Makassar.

“Taka” adalah kata dalam bahasa Bugis yang berarti karang. Arus di perairan Komodo yang kuat membawa banyak nutrisi sehingga kawanan pari manta kerap terlihat mencari makan di sini. Taka Makassar juga disebut-sebut sebagai sarang pari manta karena di saat-saat tertentu, di sini dapat terlihat hingga sekitar 100 ekor.

Peserta kembali diajak trekking untuk menikmati pemandangan dari puncak Pulau Kelor. Pulau mungil ini menawarkan rute trekking yang pendek, yaitu hanya 15 menit untuk mencapai puncak, namun medannya cukup menantang karena kemiringan bukit yang mencapai 45 derajat. Tentu saja, dari atas bukit pemandangan yang tersaji membuat napas tertahan. Sayangnya, peserta tidak bisa berlama-lama di puncak Pulau Kelor, berhubung mereka harus mengejar pesawat kembali ke Bali.

Agus Indrawan

“Saya memang menargetkan ke Kepulauan Komodo tahun ini, dan pucuk dicinta ulam tiba, Panorama Media dan Lenovo Mobile Indonesia mengajak saya. Cuaca buruk dan badai di perjalanan tetap tidak dapat mengalahkan keindahan tempat ini,dan saya bersyukur memiliki teman seperjalanan seperti Ruli Maulana yang gemar berpertualang dan tidak gentar menghadapi segala hambatan. Untuk penyelenggaraan D’333Travelers selanjutnya, saya harap agar penyusunan rencana perjalanan disesuaikan dengan waktu terbaik tempat yang dikunjungi, sehingga dapat menikmati keindahan yang ditawarkan dengan lebih optimal.”

Ruli Maulana

“Awalnya saya tidak menyangka dapat menjadi teman perjalanan Agus Indrawan, karena ketika terpilih 10 Besar, saingan saya merupakan pejalan-pejalan handal. Ini adalah perjalanan pertama saya ke Kepulauan Komodo dan meski berkejaran dengan badai selama perjalanan, namun setiap kali pula cuaca berangsur membaik, sehingga kami tetap dapat menikmati keindahan tempat-tempat yang dikunjungi. Saran saya untuk ajang ini ke depannya, pengumuman pemenang sebaiknya tidak terlalu mendadak agar pemenang dapat mengatur cuti lebih awal.”

Getlost Menu