• Twitter
  • Facebook

CARA UNIK MERAYAKAN KEMERDEKAAN

Ada banyak cara untuk merayakan eforia Hari Kemerdekaan. Kami memilih untuk memacu adrenalin, mencintai alam, dan mengumandangkan Indonesia Raya di puncak Gunung Bromo.


 

OLYMPUS DIGITAL CAMERAMajalah Get Lost yang kembali didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teh Kotak, Polygon, serta Hotel Santika Premiere Malang menyelenggarakan Explore Indonesia Goes To Bromo, 34 peserta diajak untuk menikmati wisata petualangan di Pekalen, Batu, dan merayakan Hari Kemerdekaan di Bromo, yang semuanya merupakan ikon wisata Jawa Timur.

Berbeda dari trip sebelumnya, kali ini beberapa peserta telah menyiapkan diri dengan tongkat narsis (tongsis) karena mereka ingin mendapatkan berbagai hadiah menarik dalam lomba foto. Salah satu hadiah yang diincar adalah iPod Shuffle persembahan Teh Kotak. Untuk memudahkan peserta mencari angle unik, fotografer perjalanan Barry Kusuma kembali membagikan berbagai tips fotografi selama perjalanan.

 

Hari 1

Perjalanan Panjang, Lagi!

Penerbangan paling pagi bukanlah halangan. Hal ini terbukti pukul 04:00 WIB peserta sudah berkumpul di Terminal 1A Bandara Internasional Soekarno-Hatta untuk  menuju Surabaya. Penerbangan selama satu jam itu dimanfaatkan peserta untuk beristirahat. Menyimpan energi sangat penting, mengingat ketatnya jadwal perjalanan yang sudah menanti. Sesampainya di Surabaya, perjalanan dilanjutkan menuju Pekalen, Probolinggo, selama lebih kurang empat jam naik minibus Elf.

 

Rawon di Tempat Asalnya

OLYMPUS DIGITAL CAMERADua jam perjalanan berlalu, kendaraan yang mengangkut peserta pun berbelok di sebuah rumah makan bertuliskan “Rumah Makan Rawon Nguling”. Meski Rawon Nguling telah memiliki beberapa cabang di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, namun makan di tempat asalnya yang sudah berdiri sejak tahun 1940 itu tentu terasa berbeda. Dengan makan di satu meja panjang, momen ini dimanfaatkan peserta untuk saling berkenalan –  walaupun beberapa dari mereka telah saling kenal karena pernah mengikuti trip Explore Indonesia sebelumnya, seperti Keluarga Anas Lutfi dengan keempat putrinya yang belum pernah absen sejak Explore Indonesia Goes to Yogyakarta.

Nasi Rawon Nguling terhidang dicampur nasi dan irisan daging sapi dengan sambel terasi dan kecambah. Terasa segar dimakan panas-panas dan daging sapinyanya sangat empuk. Di Jawa Timur jarang makan nasi dengan kuah terpisah, namun ada juga peserta yang meminta untuk dipisah.  Sebagai pelengkapnya, di meja sudah tersedia gorengan lauk pauk mulai dari gorengan empal daging, paru, limpa, perkedel, tahu, dan tempe yang buat ukuran orang Jakarta termasuk besar-besar irisannya.

 

Jeram dan Air Terjun

IMG_4151Sungai Pekalen terletak 25 kilometer dari Probolinggo adalah satu spot terbaik untuk menikmati arung jeram. Tak hanya medannya menantang, namun pemandangannya pun menakjubkan. Dari base camp Noars Rafting, peserta yang masing-masing telah mengenakan pelampung (life jacket), helm, dan menggenggam dayung menaiki kendaraan bak terbuka selama 30 menit yang dilanjutkan dengan berjalan kaki menuruni bukit terjal selama 15 menit menuju titik awal pengarungan.

Arung Jeram di Sungai Pekalen dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Pekalen Atas, Pekalen Tengah, dan Pekalen Bawah. Peserta diajak mengarungi rute Pekalen Atas sepanjang 12 kilometer dan waktu tempuh tiga jam. Peserta diberikan briefing oleh pemandu arung jeram (skipper) tentang teknik memegang dayung, cara mendayung maju, mundur, menghentikan perahu, hingga cara berpindah tempat, bergoyang, hingga antisipasi bila perahu terbalik.

Terdapat 55 jeram yang memiliki nama unik, seperti Welcome, Batu Jenggot, Pandawa, Rajawali, Xtravaganza, KPLA, Tripple Ace, The Fly Matador, Hiu, Cucak Rowo, Long Rapid, dan Good Bye. Ada pula Jeram Inul karena untuk melewati jeram itu, setiap peserta harus bergoyang seperti Inul sang penyanyi dangdut. Pengarungan juga melewati tujuh air terjun alami, di antaranya bernama Air Terjun Semilir Angin, Noars Beautiful Waterfall, Air Terjun Kuba, Air Terjun Tangga Dewa, dan Goa Kelelawar. Di Noars Beautiful Waterfall peserta diperbolehkan turun dan beristirahat. Berada di tengah pemandangan memukau, tak waktu lama bagi mereka untuk mengeluarkan tongsis masing-masing dan mengabadikannya.

Selama perjalanan terdapat beberapa kali insiden perahu terbalik. Karena didampingi skipper yang berpengalaman, peserta tidak panik sehingga rafting tetap menyenangkan. Mendekati akhir pengarungan, terdapat jumping point, di mana perserta dapat melompat dari formasi bebatuan setinggi empat meter ke air sungai yang tenang sedalam dua meter. Tak perlu khawatir tenggelam bagi yang tidak bisa berenang karena pelampung yang dikenakan akan membuat peserta tetap terapung. Di akhir rute, peserta telah ditunggu oleh susu jahe hangat dan pisang goreng panas yang lezat untuk mengusir masuk angin.

 

Hari 2

Saatnya Bersepeda

IMG_4474Pukul 07:00 WIB peserta berkumpul untuk sarapan di Teracota Café, Hotel Santika Premiere Malang. Setelah memacu fisik dan adrenalin di Pekalen, berkat istirahat yang nyaman, peserta sudah kembali bersemangat. Jadwal hari itu adalah menjelajah Batu, kota kecil yang ditempuh dalam 90 menit perjalanan dari Malang. Alun-Alun Kota Batu dengan udara sejuk menyambut datangnya peserta. Alun-alun ini menjadi satu-satunya alun-alun di Indonesia yang memiliki ferris wheel atau bianglala. Selain itu, berbeda dengan taman kota yang ada di Jakarta, ikon Kota Batu ini juga bersih dari sampah dan bebas asap rokok.

Sehabis menikmati keindahan alun-alun, peserta diajak mengayuh sepeda Polygon menuju Candi Songgoriti. Meski rute yang ditempuh sempat membuat beberapa peserta kewalahan karena medannya menanjak dan berliku, namun hal ini tidak masalah karena sistem transmisi sepeda Polygon dapat disesuaikan.

Candi Songgoriti sendiri merupakan candi tertua di Jawa Timur dan terletak di Kawasan Wisata Songgoriti, Batu. Sangat disayangkan reruntuhan yang masih tersisa sudah tidak utuh lagi. Padahal candi ini merupakan saksi bisu dari tempat peristirahatan keluarga kerajaan Mpu Sendok yang sengaja dibangun berdekatan dengan sumber mata air panas. Hingga kini mata air panasnya pun tetap mengalir dan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. “Setelah merendam kaki selama beberapa menit, memang badan terasa segar kembali. Air panasnya seperti memijat kaki saya,” ujar Dipa Ramsay, salah satu peserta yang telah tiga mengikuti rangkaian Explore Indonesia.

 

Menanam Rasamala

IMG_4662Setelah lelah bersepeda, energi peserta dipulihkan dengan makan siang di Waroeng Bambu. Tempat makan lesehan yang semi terbuka ini dikelilingi dengan kolam ikan koi, di mana pengunjung dapat ikut memberi makan ikan-ikan yang berukuran besar itu.

Seperti trip sebelumnya, selain menikmati keindahan alam, peserta juga diajak untuk berterima kasih kepada alam dengan menjaga kelestariannya. Lewat program corporate social responsibility (CSR) Thanks To Nature, Teh Kotak bekerja sama dengan Perum Perhutani mengajak 34 peserta menanam bibit pohon rasamala di kawasan Wana Wisata Coban Rondo. Rasamala (Altingia excelsa, Noronha) yang dapat tumbuh hingga 60 meter ini bernilai ekonomis karena kayunya yang kuat dan berbau harum.

Setelah menanam pohon, peserta juga sekaligus diajak menikmati keindahan Air Terjun Coban Rondo yang memiliki ketinggian sekitar 84 meter dan berada di ketinggian 1.135 meter dari permukaan laut. Sebelum menjadi Coban Rondo, di atasnya telah terdapat air terjun kembar bernama Coban Manten. Mengalir ke bawah, air terjun itu menyatu menjadi Coban Dudo, dan aliran Coban Dudo menjadi Coban Rondo. Meski cukup dingin, peserta pun tanpa ragu merendam kaki mereka di air demi mengabadikan momen dengan bantuan tongsis.

 

Hari 3

Kumandang Indonesia Raya

???????????????????????????????Tepat pukul 00:00 WIB peserta harus meninggalkan kenyamanan kamar Hotel Santika Premiere Malang untuk menuju Bromo. Inilah acara puncak perjalanan Explore Indonesia kali ini karena peserta akan diajak untuk memperingati Hari Kemerdekaan sambil mengagumi gunung api yang masih aktif tersebut. Tiga jam perjalanan tersebut dimanfaatkan untuk istirahat. Lagipula sebelumnya panitia telah memberitahukan bahwa setiap 17 Agustus Bromo penuh pengunjung, sehingga peserta akan berjalan kaki lebih jauh dari biasanya.

Benar saja, meeting point dengan kendaraan four-wheel drive yang digunakan untuk menuju kawasan Gunung Bromo telah dipenuhi wisatawan, tak hanya lokal tapi juga mancanegara karena Gunung Bromo adalah salah satu dari 10 Most Impressive Volcanoes di dunia versi Lonely Planet. Perjalanan naik ke puncak selama 30 menit berjalan kaki itu pun terbayar ketika akhirnya peserta tiba di puncak Gunung Penanjakan pada ketinggian 2.770 meter. Mereka sampai ke puncak tepat waktu, karena saat itu matahari hampir terbit menyambut Hari Kemerdekaan. Benar saja, ketika matahari perlahan memunculkan diri, terdengar  kumandang lagu Indonesia Raya dari seluruh wisatawan yang ada di situ. Banyak peserta yang tak dapat menahan haru. Ketika akhirnya matahari terbit sempurna, tampak  Gunung Semeru yang mengeluarkan asap menjadi latar  Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang didominasi laut pasir seluas 5.250 hektar.

Belum cukup dibuat kagum, padang savana yang dijuluki Bukit Teletubbies – karena bentuknya mirip dengan bukit di serial Teletubbies – menjadi atraksi berikutnya setelah turun dari puncak. Untuk menuju ke sini, peserta melewati  padang gurun yang dijadikan lokasi syuting film Pasir Berbisik, sebelum akhirnya mereka sampai di kawah Gunung Bromo yang ternyata untuk mencapainya dibutuhkan perjuangan. Mobil harus parkir agak jauh sehingga peserta harus berjalan kaki. Untung  terdapat penyewaan kuda yang membantu peserta yang tidak kuat berjalan sampai Horse Point, titik awal menuju kawah dengan 250 anak tangga. Beberapa peserta sempat kehabisan nafas di tengah pendakian namun mereka tidak menyerah demi menyaksikan pemandangan yang terhampar dari gunung setinggi 2.392 meter di atas permukaan laut itu.  Benar saja, tak ada kata yang dapat mendeskripsikan apa yang terlihat dari kawah tersebut. Selain kawah yang masih aktif, Gunung Batok yang menjadi latar depan bila dilihat Gunung Penanjakan terlihat jelas dikelilingi padang pasir.

 

Doorprize untuk Semua

OLYMPUS DIGITAL CAMERASebelum kembali ke Jakarta, seperti biasa, peserta tak akan pulang dengan tangan hampa. Muh Ibnu Sina dan Siti Romdiah membawa pulang masing-masing sebuah sepeda persembahan Polygon, sedangkan Dey Lazuardi memenangkan kamera saku dari Get Lost, dan Anton Chandra keluar sebagai pemenang foto terfavorit trip Explore Indonesia Goes To Bromo berhadiah iPod Shuffle persembahan Teh Kotak. Selain itu masih banyak lagi yang dibagikan untuk peserta seperti voucher hotel dari Get Lost, voucher dari Kaffein, dan voucher belanja Sodexo dari Teh Kotak.

Tak berhenti sampai di sini, rangkaian trip Explore Indonesia juga akan terus berlanjut dengan Explore Indonesia Goes To Lombok pada 17-19 Oktober 2014. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi David di 0856 9318 3588.

 

Teks oleh Arris Riehady | Foto oleh Arris Riehady, Barry Kusuma & Anton Chandra

Getlost Menu